Sabtu, 18 September 2010

Bagaimana Sekuraliasi itu maujud

Pembaca yang terhormat,
 
Pengantar
Agaknya, ragam penafsiran orang-orang atas istilah secular telah membawa-serta implikasi pada berbagai pemahaman sosial dan budaya. Informasi ini tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan variasi pemahaman tersebut, melainkan hanya mengusulkan suatu diskusi ilmiah yang bermanfaat untuk kebutuhan intellectual exercise saja. Menurut hemat saya, ada banyak orang, termasuk kalangan ilmuan (baik mereka dari latar-belakang ilmu-ilmu pasti-alam, matematika, dan fisika maupun  ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan), yang cenderung untuk menghindar dari pengalaman secular. Ada berbagai kemungkinan “pra-sangka” atau “pra-konsepsi” mereka pada makna konseptual secular itu. Pertanyaannya adalah apakah kata secular itu berkait dengan sesuatu yang manusiawi atau duniawi sehingga kata tersebut dapat dipandang sebagai bagian penyebab dehumanisasi, misalnya; ataukah ada kemungkinan tanggapan lain tentang hal itu?
 
Sekularisasi
Konsep sekularisasi berasal dari kata saeculum (Latin). Kata ini sering dipahami sebagai suatu masa (atau era), tetapi juga, setidaknya pada abad ke-4 dan ke-5, di mana dunia, boleh jadi, dipandang sebagai kelanjutan (extension) dari gagasan “spirit of the era”. Dalam semangat itu terkandung makna differensiasi, pembagian kerja kelembagaan berdasarkan ukuran-ukuran rasional (calculated-operational) dan non-rasional (abstract-spiritual). Hingga dewasa ini kata sekularisasi telah berkembang menjadi suatu pengertian (meaning) yang ambigue. Ia telah digunakan untuk memberi makna suatu era bagaikan masa yang tidak ada ujungnya (dengan phrase “dunia tanpa akhir, atau asumsi bahwa kehidupan manusia di dunia ini adalah untuk selamanya, forever and ever). Itu adalah juga terjemahan dari kata “in saecula saeculum” atau dunia “di luar sana” (ada kehidupan di bawah suatu aturan hidup formal (“rule of life”, dalam mana aturan mereka itu berbeda dari kehidupan yang bebas, seumpama “secular clergy”, dalam artian bahwa ada kehidupan relijius tertentu yang melayani orang-orang di dunia (“out in the world”). Namun, kata secular itu juga telah digunakan banyak pakar untuk memaknai suatu kehidupan atau gaya-hidup yang bersebelahan dengan semangat  relijiusitas (at odds with God).
 
Selanjutnya, istilah secular juga telah dimanfaatkan untuk membedakan antara hukum-hukum sipil dan agama, tanah-tanah, dan pemilikan-pemilikan. (Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa masyarakat Aceh pasca-tsunami sedang mengalami proses sekularisasi, antara lain, dalam bentuk pemilikan tanah melalui program ajudikasi, dan lain-lain, yakni land private ownership). Lebih jauh, pada abad 19 istilah secular telah diterima oleh seorang pemikir liberal (free thinker) dari Inggris, yaitu G. J. Holyoake. Ia adalah seorang perancang yang pernah mengembangkan sebuah masyarakat sekular (secular society), suatu kelompok yang committed terhadap suatu tatanan dunia yang adil dengan suatu perangkat aturan moral individual (moral program of individual action). Tatanan itu telah berhasil digunakan untuk menyelesaikan problema-problema kemanusiaan tanpa penggunaan berbagai ungkapan supernatural (supernatural explanations).
 
Pengalaman di atas menunjukkan bahwa istilah secular semakin sering digunakan kalangan ilmuan secara berbeda dari (had an increasingly negative use) masa awalnya. Ketika istilah sekularisasi dimasukkan ke dalam (adapted into) ilmu sosial, konsep tersebut dikonseptualisasikan dan diberi status ilmiah (“scientific”) untuk rangkaian kelangsungan perkembangan lanjutan sekularisme. Lihat Georger Ritzer, Encyclopedia of Social Theory, editor, Vol II, University of Maryland, College Park, SAGE Publications, Thausand Oaks,  London, 2004:680.
 
Reflesivitas
 
Saya sendiri telah mencoba memahami makna sekularisasi itu sebagai bagian dari proses penduniawian (misalnya, pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder para ilmuan kampus Unsyiah) atau pemanusiaan (pendidikan dan pelatihan kepribadian atau kemanusiaan). Proses itu dikembangkan berdasarkan kerangka pemikiran rasional (scientific theoretical framework) atas sesuatu objek (alamiah) yang masih terlihat dalam bentuk misteri. Tsunami mungkin dipahami secara secular berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang peristiwa alam, mencakup pelbagai lapisan bumi dan isinya. Kemungkinan pelbagai peristiwa alam dapat dipahami dengan penjelasan ilmu-ilmu alam atau fisika, misalnya, bisa saja terjadi dan itu adalah juga bagian dari proses sekularisasi.
 
Fatamorgana alam semesta, panorama duniawi yang memikat manusia (enchanted) adalah sentral sekularisasi, dan bagian konsekuensinya adalah kehilangan daya-pikat (disenchanted). Dunia menjadi rasional (disenchantment of the world), dan dengan demikian terjadilah proses rutinisasi dan strukturisasi dalam pelbagai bentuk tradisi kelembagaan. Birokrasi (Weber) adalah salah satu bentuk organisasi sosial produk sekularisasi dan rasionalisasi itu. Tanpa proses sekularisasi seperti itu hampir tidak mungkion sebuah organisasi atau birokrasi  itu memungkinkan memberikan pelayanan yang sama (equal, adil, setara) kepada publik. Birokrasi rasional merupakan suatu bukti capaian akal-budi manusia yang mampu melayani orang-orang dalam masyarakat secara adil dan tidak dengan semangat pilih kasih.  
 
Apa sesungguhnya manusia (man, human being) itu? Dengan andalan kemampuan secularnya (akal-budinya) manusia telah mampu menciptakan sistem nilai (budaya) untuk memenuhi kebutuhan primer (sandang, pangan, dan papan) duniawinya. Tanpa kemampuan itu manusia hanya akan menjadi mangsa makhluk lain belaka (instinct deprivation). Jadi, manusia berpikir itu tidak terlepas keterlibatannya dalam proses sekularisasi, dan rasionalisasi adalah bentuk lain dari proses sekularisasi itu. Bagaimanapun, para ilmuan dan peneliti hidup dengan pola-pola pemikiran rasional yang merujuk pada capaian-capain bidang keilmuannya masing-masing. Masalahnya adalah
 
Ilmu pengetahuan modern adalah salah satu bagian produk sekularisasi atau rasionalisasi yang demikian itu. Matematika adalah contoh produk sekularisasi, di mana berbagai macam angka dan proses perhitungan yang dimungkinkan dalam disiplin itu dapat dihayati dan diamalkan melalui fungsi akal-budi (rasio) tanpa hubungan dan ikatan emosonal dan tradisional yang nyata. Internalisasi seorang peneliti atau ilmuan pada cara-pandang ilmu pengetahuan modern yang digelutinya tentu saja menentukan posisinya dalam suatu level sekularisasi itu.
 
Modernisasi dan kapitalisme global adalah sumber inspirasi dari mana proses sekularisasi itu mengalir bagaikan air bah ke seluruh bagian dunia kehidupan manusia. Manusia tanpa sekularisasi adalah kematian yang semu. Itu karena manusia tidak menggunakan pikiran atau akal-budinya untuk berubah, tidak ada produksi dan atau reproduksi sosial dan budaya. Hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang lepas dari proses sekularitas, utamanya dalam era global ini.
 
Tulisan ini tidak mungkin dapat dipahami dan diterima dengan baik tanpa kritikan, diskusi, dan tanggapan dari berbagai disiplin atau sudut pandang keilmuan anggota komunitas ilmiah kampus Syiah Kuala. Oleh karena itu, dengan segala hormat saya menyatakan please advice

Tidak ada komentar: