Re: [jambo_unsyiah] Merawat Unsyiah, Memastikan Keadilan secara akademis?
Thursday, September 30, 2010 9:54 AM
From:
"saleh sjafei"
To:
"Jambo UNsyiah"
Dear Pak Saifuddin dan semua,Perkenankan saya menggunakan format or framework tulisan anda berikut ini.
Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi di Unsyiah...
Pada akhirnya keadaan harus disimpulkan: Unsyiah sedang menuju ke arah kekuasaan yang berbahaya. Kemajemukan kita (per program studi) berangsur hilang. Sebaliknya, pikiran-pikiran konservatif (memberi kuasa pada orang2 berjasa secara primordial dan emosional) sudah menguasai ruang-ruang academic (sphere).
Semangat (dan integritas) intelektual (jujur, adil, dan benar substatif) tidak lagi tumbuh dalam institusi-institusi akademis. Sebaliknya, peralatan demokrasi (formal) justeru digunakan untuk menyelundupkan nilai-nilai (luhur: kepentingan bersama akademis) ke dalam bungkus2 administratif_hukum feudalistik (patron-client relationship). Pendeknya, absolutisme ("the king can do no wrong", semua masukan diakomodasi namun keputusan tetap saja inovasi raja, sehingga) pandangan hidup (penguasa kelembagaan akademis) sedang menutup ruang argumentasi (ilmiah: objektivitas dan reliabilitas based on logic, sistematic, and consistent reasoning).
Kondisi kita hari ini adalah hasil keragu-raguan (manajemen) kepemimpinan (institusional) Akademis. Keragu-raguan untuk menyelenggarakan sebuah "academic community (sphere)freedom", yaitu komunitas ilmiah yang percaya pada pikiran terbuka ("world-class university oriented"), komunitas yang terlatih berselisih (secara intelektual) tanpa kekerasan (fisik dan emosionalitas), komunitas yang berani menuntut hak (asasinya) hanya atas alasan konstitusi (absolut dan relatif). Itulah komunitas ilmiah yang tumbuh dalam ide "pencerahan intelektual kemanusiaan yang adil dan beradab".
Sesungguhnya, civilisasi manusia memerlukan kebebasan individual (kebebasan yang terikat dan keterikatan yang bebas). Kebebasan individu dalam artian bukan untuk realisasi kepentingan individu secara subjekti, melainkan untuk individu objektif (representasi kelembagaan, kebersaam) yang mengatur distribusi hajat hidup manusia kampus. Kepentingan individual (yang terlihat di jajaran lembaga akademis kita) telah menghalangi persebaran keadilan secara metodis (rational planning) dan memanipulasi kerangka demokrasi keilmuan. Sebaliknya, hanya individu bebas (bukan bentukan institutional planning) yang mampu menghormati perbedaan manusia (secara moral-intelektual), dan (dengan demikian) hanya individu yang menghormati perbedaan manusialah yang mampu menyelenggarakan prinsip2 manajemen (administrasi)akademis untuk menghormati kemajemukan bidang2 institusi keilmuan. Kebersamaan akademis yang manusiawi hanya dapat tumbuh dalam format kepemimpinan yang menjunjung tinggi karakter kemajemukan.
Karena itu, Unsyiah haruslah berubah. Etika (intelektual) Akademis adalah landasan untuk memulai perubahan. Etika keilmuan adalah tata-krama dalam pergaulan sebuah Universitas. Ia tidak memerlukan pengaturan oleh hukum formal. Etika Ilmiah adalah energi (lokomotif) yang mengaktifkan (dan membangkitkan) warga komunitas kampus (civitas akademika) bekerja memelihara kesetaraan politik, menghormati kemajemukan bidang (pohon) keilmuan, dan mengutamakan keadilan distribusi fasilitas keilmuan dan SDM.
Etika ilmu adalah landasan moral Tri Dharma sebuah Perguruan Tinggi. Dengan itu kita menempuh sebuah Universitas (Syiah Kuala) yang bermutu tinggi.
Demikianlah ungkapan tak-sistematis saya menggunakan kerangka tulisan Pak Saifuddin Bantasyam. Jika ada tanggapan yang bersifat kritis, itu adalah hak saya untuk menerimanya. Please advice.
Salam perubahan Unsyiah, saleh sjafei
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar