Beberapa tahun lalu, pasca reformasi, salah seorang dosen saya, Manasse
> Mallo, dari departemen Sosiologi FISIP-UI berhasil masuk ke dalam
lingkungan
> kekuasaan legislatif sebagai anggota DPR-RI melalui partai politiknya.
> Guru-Besar Sosiologi itu dengan motivasi sosiologisnya bermaksud untuk
> mewarnai tatanan perdebatan di kalangan wakil2 rakyat dalam rangka mereka,
> paling tidak, untuk membentuk peraturan perundang-undangan, menyusun
> anggaran belanja negara, dan mengawasi pembangunan nasional dengan Logika
> Ilmu Pengetahuan (the logic of science).
>
> Namun, setelah kurang lebih dua tahun Sosiolog itu mewaikili rakyat ikut
> berpartisipasi dan bergaul dengan para anggota parlemen nasional
> mengungkapkan pengalaman kelelahannya. Hal itu, antara lain, bahwa
> perjuangan anggota dewan mewakili rakyat untuk memenuhi kewajiban
> legislatifnya dihadapkan pada "Logika pilihan rasional" masing2
dalam wujud
> cara2 berpikir, bersikap-tindak, dan berperasaan yang cenderung temporal
> (short-term) sesuai dengan masa tugas anggota lima tahun. Oleh karena itu,
> kontrak sosial yang terbentuk dalam hubungan para anggota parlemen dengan
> sesamanya bercirikan (ilmu) format Logika tersendiri (the reference of
> logic) yang berbeda dari Logika Ilmu yang berlaku di kalangan para ilmuan.
> Dengan perkataan lain, di satu sisi ada "Logika Ilmu" produk
komunal dan
> konsensus para ilmuan (scientists, academia) dan di sisi yang lain ada
"Ilmu
> Logika" hasil pergesekan kepentingan personal ("persekongkolan,
> perselingkuhan") para anggota parlemen (politician, legislator) di
DPR-RI.
>
> Deskripsi di atas dimaksudkan sebagai bagian pengalaman umum (genaralisasi
> empiris) yang menasional (Indonesian style) untuk menjadi alat (model,
> tipologi) analisis terhadap gejala dalam institusi kekuasaan negara yang
> relatif sama pada level2 organisasional baik vertikal maupun horizontal di
> lingkungan Provinsi dan Kabupaten/Kota. Dengan gambaran alur perbedaan
> logika itu akan juga membawa-serta pada rujukan ETIKA dan Estetika yang
> berlaku para anggota parlemen, birokrasi, dan karyawan di lingkungan
> kekuasaan Negara (Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif) masing2. Apa
(siapa
> dan bagaimana) saja resep yang mungkin menjadi (pewarna, peubah) penawar
> untuk "pokok2 permasalahan" (struktural, kultural) yang
cenderung mendorong
> mereka (anggota DPR(D), aparatur) mengingkari dan menghindari dari Logika
> Ilmu Pengetahuan yang menjunjung tinggi kepentingan rakyat yang diwakili
> mereka dalam bidang masing2..?
>
> Nah, bagaimana jika deskripsi tersebut di atas dikaitkan dengan kondisi
> struktural dan kultural di Universitas Syiah Kuala dalam rangkaian
analisis
> SWOT bagi rencana reformasi ke depan? Untuk itu para pemimpin Unsyiah
perlu
> membentuk kelompok kerja (pokja) yang terdiri dari para akademisi dan
> karyawan yang memiliki integritas keilmuan dan dedilkasi tinggi pada
> kepentingan Tridharma Perguruan Tinggi. Para senator Unsyiah patut
mendorong
> upaya2 untuk perubahan kinerja Unsyiah secara objektif dan rasional. Para
> akademisi yang berkualifikasi tinggi secara keilmuan, seperti keandalan
> ilmiah secara internasional, lulusan berpredikat Cumlaude dari dalam dan
> luar negeri, peneliti2 yang inovatif, dan lain2 mestinya menjadi prioritas
> pemimpin Unsyiah ke depan agar memberikan sedikit stimulan (encouragement)
> untuk memungkinkan mereka menjadi pioneer2, fondasi bangunan kelembagaan
> (kreativitas dan produktivitas) Unsyiah yang berbasis ilmu pengetahuan dan
> teknologi.
>
> Saya secara pribadi masih optimis bahwa para ilmuan (berkualifikasi
tinggi)
> yang konsisten dan konsekuen ada banyak di Unsyiah. Masalahnya adalah
> bagaimana pemimpin Unsyiah memberikan tantangan dan peluang bagi mereka
> untuk membuktikan keunggulan ilmiah masing2. Seleksi alamiah dan ilmiah
akan
> terjadi dengan sendirinya tanpa harus menggunakan referensi "Like and
> Dislike" untuk kebutuhan pengembangan universitas.
>
> salam hormat, serta mohon kritikan dan nasihat keilmuan dari para
akademia,
>
> saleh sjafei
> Sent from my BlackBerry®
---------------
Pak Saleh yang budiman
Secara singkat -- sepanjang yang saya ketahui - perbedaan antara ilmuwan dan
politikus adalah: ilmuwan bekerja atas dasar fakta2 dan eksperimen, baru
dapat mengambil kesimpulan. Sedangkan politikus bekerja atas dasar
"seni"
dan kepentingan, baru mengambil kesimpulan.
Tapi kedua2nya secara ideal bertujuan ingin memakmurkan rakyat.
Mohon maaf kalau salah.
Salam, Syamsul Rizal
-----------------------------
Prof. Syamsul yang saya hormati,
Perkenankan saya menyampaikan penghargaan atas responnya. Ini adalah diskusi
(intellectual exercise) keilmuan di antara kita yang berasumsi bahwa
"masih banyak yang perlu kita cari tau, karena objek kajian ilmiah itu
dapat ditelusuri secara multi-dimensional", banyak sisinya yang belum
teruji berdasarkan prinsip2 keilmuan, yakni objektivitas dan reliabilitas,
termasuk bagaimana imperalisme objektif terhadap subjek, dan seterusnya.
Jika saya boleh memberikan tanggapan balik atas sambutan yang dikemukakan tadi,
adalah bahwa pada hakekatnya tidak ada jawaban yang salah. Semua kebenaran
jawaban itu sesuai dengan tahap atau tingkatan kondisi ruang, tempat, dan
waktu. Artinya, jawaban kemarin mestinya berbeda dengan capaian jawaban hasil
pencarian hari ini, demikian pula tingkat kebenaran jawaban hari esok, dan
seterusnya.... Semakin hari, minggu, bulan, tahun, dan abad mestinya hasil
penelusuran tentang gejala (phenoumena) alam (kehidupan dunia) semakin
mendekati alur kebenaran yang sesungguhnya (noumena).
Adapun yang lebih mungkin dapat dinyatakan salah itu ialah tindakan seseorang
atau kita yang berhenti mempertanyakan capaian kebenaran terdahulu. Hal itu
merujuk pada (hukum) dialektika (filosofi Hegel:) thesis, antithesis, dan
sintesis. Kebenaran hari ini akan digugurkan oleh kebenaran esok hari.
Sebagaimana mekanisme uji hipotesis dalam penelitian ilmiah yang kita gandrungi
sehari-hari.
Benar bahwa para ilmuwan bekerja atas dasar fakta2 dengan metode2 eksperimen,
observasi, komparasi, etc.n baru kemudian mereka dapat mengambil kesimpulan
hipotetis (thesis atau sintesis). Bagaimana dengan cara kerja politisi?
Boleh jadi, sebetulnya politisi atau politikus itu adalah praktisi ilmu
politik, orang2 yang mengaplikasikan pengetahuan keilmuannya dalam berbagai
tempat, ruang, dan waktu. Objek (ontologis) ilmu politik adalah kekuasaan
(power), teori2 ilmu politik itu cara2 (epistimologis) orang2 mengelola
kekuasaan, memperoleh, atau mendapatkan, atau bahkan merebut, memelihara, serta
mungkin melestarikan posisi kekuasaan agar tetap pada diri dan atau
kelompoknya. Misalnya, teori2 politik pada masa perbudakan, feudalisme
(otoriter, diktator, totaliter), dan demokrasi (egaliter), itu berbeda satu
sama lain. Metodologi ilmu politik itu berbicara masalah bagaiman cara ilmuan
(praktisi) itu menghimpun data, fakta, informasi yang diperlukan dalam
rangkaian upayanya mengolah, menganalisis gejala (cara2 orang mendapatkan,
melestarikan, atau melepaskan) kekuasaan yang ada atau yang sedang dan telah
tiada.
Jadi, politikus bekerja atas dasar atau prinsip2 keilmuan juga sejatinya, yakni
bekerja sesuai dengan cara2 yang berkembang dalam khazanah ilmu pengetahuan
politik itu. Sedangkan "seni" adalah gaya kepemimpinan personal
seseorang yang menduduki posisi2 kuasa, atau cara2 politisi itu memimpin, mensosialisasikan
konstituennya agar pengetahuan dan kecerdasannya terpenuhi secara efesien dan
efektif. Seni adalah cara2 mengelola orang2 yang dikuasai agar lebih yakin
kepada apa yang hendak dicapainya, seni mendidik rakyat agar lebih cepat
mandiri, seni meyakinkan eksekutif agar menyelenggarakan pemerintahan yang
bersih dari KKN, dan sebagainya.
Para seniman (artis) juga tidak demikian saja mampu mewujudkan hak dan
kewajibannya sebagai politikus yang sesuai dengan kontrak yang disetujui
rakyatnya. Sedangkan kelompok kepentingan adalah mereka bergerak di bidang
sumber2 ekonomi (produksi, distribusi, konsumsi, dan pertukaran) barang2 dan
jasa. Hubungan antara pemilik alat2 produksi (pemilik kapital) dengan penguasa
selalu saja dalam bentuk "give and take consideration", relasi
pertukaran sumber2 ekonomi dan kekuasaan yang sulit ditembus oleh kalangan
masyarakat bawah.
Benar bahwa kedua2nya (ilmuan dan politisi) secara ideal bertujuan ingin
memakmurkan rakyat. Namun, cara2 atau media yang digunakan mestinya tidak
berbeda satu sama lain, yakni prinsip2 objektif, netralitas (berpihak kepada
semua lapisan masyarakat), transparan, akuntabel, dan berkelanjutan, sesuai
dengan kaidah2 keilmuan. Ciri2 politisi yang mengikuti prinsip2 good and clean
governance itu yang sedang melanda para politikus kita di Indonesia, konon
kalau cara2 memimpin yang demikian digunakan dalam pengfelolaan Unsyiah, apa
kata dunia keilmuan, siapa yang tidak murka...?
Wassalam, mohon kritikan dan pengarahan akademisnya,
----------------------
Tanggapan Dr. Otto:
saya ingin
kembali ke catatan awal Pak Saleh yth, karena saya merasakan adanya
ketidakadilan dalam melakukan komparasi antara ilmuwan dan politisi. Misalnya
"sebelum" dan "hingga" penggalan pernyataan: "Logika Ilmu" produk komunal dan konsensus para ilmuan
(scientists, academia) dan di sisi yang lain ada "Ilmu Logika"
hasil pergesekan kepentingan personal
("persekongkolan, perselingkuhan") para anggota parlemen
(politician, legislator) di DPR-RI."
ketidakadilan, atau ketidaksepadanan komparasi itu terkesan ilmuwan
dihadirkan dalam tipe idealnya, sedangkan politisi disuguhkan dalam tipe
faktual (yang konotatif-negatif). Akibatnya, saya yang "merasa" masih
"mendosen" menjadi agak narsis dalam melihat diri sendiri. Bukankah
ilmuwan juga bisa terjebak pada persekongkolan ketika membangun kesepakatan
untuk melakukan manipulasi statistikal terhadap hasil faktual dalam pengolahan
data (kuantitatif) sebelum dilanjutkan dengan analisis (narasikan) dan
ditampilkan atau dipertanggungjawabkan ke hadapan publik? Demikian pula dalam
merekonstruksi data-data kualitatif untuk membangun "thick description
clifford geertz" misalnya.
jadi
kalaulah hendak mengkomparasikan dua profesi yang berbeda maka tampilkan
keduanya dalam wujud yang ideal atau sama-sama faktual. Karena, dalam dimensi
strukturalnya, kedua-duanya adalah agensi (ini punya pak saleh). mereka berada
disitu karena adanya "calling" (weber). mereka bekerja dalam alur
metodisnya masing-masing (kita dapat membayangkan bagaimana tatib mengatur
politisi dalam memproduksi atau mereproduksi sebuah kebijakan). Keduanya, juga
menjalankan peran faktual, yang bisa mendekati tipe ideal atau menjauhi tipe
ideal dalam perilakunya dan outputnya.
Lalu, jika
memang hendak membangun otokritik mengapa kita tidak mencoba mengkomparasikan
ilmuwan-guru (tanpa berjabatan), ilmuwan-teknokratis (pejabat kampus) dan
ilmuwan-senator (anggota senat). Atau, mempelajari story individu yang
lalu-lalang dalam antara ketiga katagori itu. Apakah ada konsistensi dalam hal
etika dan daya produksi ketika mereka menjalankan peran dalam 3 katagori
ilmuwan itu? Apakah ia termasuk individu yang ideal ketika berada dalam salah
posisi tersebut? atau malah, ketika berperan sebagai ilmuwan-teknokratis, ia
justru menjadi seorang "devil" yang mengumpulkan rente kredit dari
sejumlah "ghostwriter" yang dipeliharanya dengan biaya akademi
(negatif) untuk mempertahankan atau meningkatkan daya produksi-reproduksi ilmu.
Bagaimana hal ini menurut etika, sekalipun bisa dimanipulasi ketika berhadapan
dengan struktur dan sistem? Apakah gelar akademiknya (misalnya untuk pangkat
dan keprofesoran) merupakan hasil negosiasi dengan ilmuwan-teknokratis?
Demikian pula dengan statusnya sebagai ilmuwan senator. Apa akibatnya?
Lalu,
bagaimanakah hal ini semua tercerminkan pada "air muka"
Unsyiah?
Otto Syamsuddin Ishak
Sosiolog
Jl. As-Sumatrani No. 3, Darussalam
Banda Aceh