Selasa, 05 April 2016

Refleksi Untuk Pengembangan Universitas


Ini adalah bagian resume pandangan dan masukan para anggota mailing-list (milis) Unsyiah.
Betapa civitas akademika Unsyiah menanggung Harapan kepada Guru Besar (dalam ruang Droe keu Droe, Serambi Indonesia, 3 Oktober 2010)? Berikut ini ada opini dan berbagai tanggapan anggota milis. Misalnya, ada surat pembaca seperti ini. Bertambahnya guru besar di Unsyiah merupakan capaian positif bagi universitas yang ingin menjadi world class university. Dengan bertambahnya guru besar diharapkan Unsyiah makin maju dalam pendidikan dan mampu berinovasi guna melahirkan berbagai sarjana yang bisa berbuat demi kemajuan daerah dan negara….. Konon lagi Unsyiah hampir memasuki usia emas, 50 tahun alias setengah abad. Semoga para guru besar lebih peduli memikirkan pengembangan pendidikan ketimbang memikirkan posisi-posisi politik baik di universitas maupun di pemerintahan. Bersaing untuk menghasikan penemuan baru di bidang pendidikan adalah tugas mulia daripada menyibukkan diri bersaing dalam bursa pemilihan rektor atau kepala pemerintahan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Banyak yang harus dibenahi di internal Unsyiah.
Semoga korps guru besar yang sudah dimiliki Unsyiah saat ini mampu mengembangkan dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan bangsa, serta mampu memperbaiki kualitas universitas, sehingga menjadi universitas berkelas dunia. Pertanyaannya, apakah para guru besar yang sudah berjumlah 39 orang di Unsyiah mampu mewujudkan hal itu? Apakah para guru besar mampu meningkatkan kualitas Unsyiah di mata dunia internasional? Apakah keberadaan para guru besar yang kian bertambah benar-benar dapat menjadikan Unsyiah sebagai world class university? Demikian surat pembaca dari Yuhdi Fahrimal, mahasiswa FISIP Unsyiah.
Salah salah seorang anggota milis memberikan tanaggapan bahwa “para guru besar itu lebih banyak menjadi anggota senat Universitas supaya bisa memilih rektor ketimbang berkarya untuk memajukan Universitas ini”. Anggota yang lain mengatakan “berdasarkan phenomena (masukan atau kritikan civitas akademika) itu bisa disimpulkan ada something wrong dengan sistem yang berjalan di universitas saat ini. Paling tidak timbul kesan bahwa di Unsyiah belum adanya sarana untuk mengakomodir saran atau kritikan dari segenap civitas akademika terhadap sistem yang ada. Fasilitas yang ada hanya merupakan kelengkapan belaka sehingga tidak ada follow-up atas saran atau kritikan yang telah disampaikan.
Konsekuensi dari kondisi ini adalah seseorang yang merasa tidak puas dengan sistem yang ada akan mencari sarana lain untuk mengungkapkan segala ketidakpuasannya. Tentu hal ini sangat disayangkan, di mana persoalan yang harusnya bisa diselesaikan secara internal berubah menjadi konsumsi publik. Kondisi ini tentu akan memperparah keterpurukan Unsyiah di mata masyarakat. Untuk itu demi kebaikan Unsyiah di masa yang akan datang, saya fikir ada baiknya kita kembali mengiatkan kegiatan-kegiatas diskusi di antara segenap civitas akademika untuk menganalisis apakah sistem yang berjalan saat ini sudah sesuai dengan yang diharapkan atau sebaliknya. Lebih jauh, saran dan kritikan sebaiknya sesegera mungkin difollow-up secara transparent dan accountable sesuai dengan mekanisme yang ada. Dengan demikian masalah-masalah yang sifatnya internal tidak lagi menjadi konsumsi publik dan dapat diselesaikan sebagaimana mestinya”.  
Lebih jauh, ada tanggapan lain yang menyatakan keraguannya atas harapan-harapan yang ditujukan kepada para guru besar seperti dalam tulisan Yuhdi Fahrimal di dalam Droe keu Droe. Dipertanyakan seberapa banyak hasil pemikiran berupa ide perkembangan dan perbaikan dari para guru besar yang telah disampaikan dalam forum atau dalam berbagai kesempatan? Padahal suara (tulisan) mereka jauh lebih bermakna & bergema daripada suara dosen biasa.
Anggota milis lain memberikan sinyalemen seperti berikut. “Saya dengar kita sudah "kehilangan tempat" untuk berdiskusi di Unsyiah, sehingga harus ke Brastagi. Jangan salahkan orang lain, karena kita ikut2an membangun ekonomi tetangga, walaupun rumah kita masih rewot”. Kemudian ada respon yang mempunyai makna subjektif tertentu bahwa “ke Berastagi dingin pak seperti Takengon; ke Berastagi jauh dari kedai kopi sehingga lebih konsentrasi; ke  Berastagi bisa butuh waktu 2 hari volume kerja pergi dan pulang”.
Ada warga milis yang member komentar begini. “Tidak apalah, memang Brastagi itu sejuk nan indah, apalagi kalau nginap nya di Mikie Holiday Hotel and Resort, tentu membuat pikiran sejuk, jernih dan cemerlang. Saya kira itu masih sah-sah sajalah, asalkan hasil/manfaatnya besar bagi Unsyiah. Brastagi pun masih NKRI, daripada seperti yang dilakukan Dewan Kehormatan DPR RI yang study banding ke negara Yunani itu, kan lebih baik di Brastagi ya kan?”
Anggota milis lain memberikan komentar bahwa “Unsyiah sudah mempunyai banyak staf pengajar lulusan luar negeri dalam berbagai bidang, baik untuk tingkat Master ataupun Doktor. Tentunya mereka yang studi di luar negeri memiliki pengalaman yang dapat diterapkan di Unsyiah walaupun memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai yang benar-benar optimal. Kebanyakan orang hanya bisa menyarankan dan juga mengkritik, tapi jarang yang mau melakukan sesuai dengan apa yang telah disarankan kepada orang lain. Misalnya, sebagai staf pengajar kita menyarankan mahasiswa untuk lebih banyak belajar secara mandiri, tapi apakah kita selaku staf pengajar telah benar-benar siap dalam memberikan materi kepada mahasiswa. Terkadang kita tidak masuk mengajar dengan sengaja, mahasiswa telah menunggu, boleh jadi pada saat tersebut kita tidak ada keperluan atau agenda apapun. Marilah kita perbaiki, termasuk diri saya sendiri, apa yang seharusnya perlu diperbaiki secara bersama-sama, dalam hal ini semua komponan civitas akademika Unsyiah”.
Anggota milis lain memberikan pendapat seperti ini. “Tetap optimislah, apalagi prof kita semakin banyak, kita doakan mudah2an kedepan akan bisa lebih banyak hasil karya para guru besar kita demi kemajuan unsyiah dan NAD. Program evaluasi kinerja para Prof yang mulai dijalankan sejak tahun ini menstimulasi energi besar kearah itu”.
Ada juga warga milis yang menjawab begini. “Sudah seharusnya kita menaruh harapan besar pada para Guru Besar kita (terutama pada mereka yang baru diangkat), tapi mohon jangan pula kita lupakan jasa para Guru Besar yang telah mendahului kita atau beliau-beliau yang masih ada namun tidak aktif lagi berkarya dlilingkungan akademia (dengan kata lain sudah pensiun). Tanpa mereka, Unsyiah juga bukan apa-apa.
Berdasarkan opini dan berbagai tanggapan tersebut perkenankan saya menyatakan "sangat setuju" pada semua itu. Misalnya, statement Doktor Izarul Machdar bahwa "...Unsyiah tidak punya "mekanisme komplain" yang baik yang harusnya bisa dibangun melalui sistem Monitoring dan Evaluasi". Itu adalah masukan sangat berguna dan konstruktif. Demikian pula semua gagasan lain akan bermanfaat jika dilihat dari sudut pandang moralitas keilmuan, “kerendahan hati”.
Saya telah mencoba mengamati (dengan andalan observation from within) beberapa tindakan (subjective meaning) sebagian pimpinan baik pada level universitas (Kantor Pusat Administrasi, KPA-Unsyiah) kita dan ataupun unit-unit lain di bawahnya. Sejauh ini saya memberanikan diri untuk menyatakan secara hipotetis respon para pimpinan kita tidak cukup menggembirakan. Mereka tidak memperlihatkan isyarat "welcome" yang memadai terhadap keluhan-keluhan, kritikan-kritikan, dan bahkan anjuran-anjuran para civitas akademika, utamanya para anggota mailing-list (milis) jambo ini untuk perbaikan dan kemajuan bersama.
Di satu sisi, berbagai masukan baik melalui cara-cara penyampaian yang "soft style" maupun "hard style" telah disajikan oleh sejumlah anggota milis. Namun demikian dapat dikatakan amat sedikit respon yang nyata (signifikan) dari para pimpinan institusi. Dalam beberapa kesempatan PR1 sempat memberikan tanggapan atas masukan warga jambo. Sebagian pimpinan lain cenderung membiarkan saja ("Emang Gue Pikirin", EGP aja) pelbagai masukan dari warga milis. Pembiaran ini dapat menjurus (sengaja or tidak sengaja) pada "pembusukan", pembunuhan watak penulis (kritikus) yang memberi masukan, nasihat, ingatan demi perubahan atau kebajikan. Sebagaimana disetir beberapa warga milis melalui beberapaa doktrin spiritual betapa pentingnya kita saling menasihati dan mengingati dalam upaya mewujudkan kebenaran, kejujuran dan keadilan di lingkungan komunitas akadmis Unsyiah.
Di sisi lain, tidak sedikit warga milis juga menunjukkan ketidak-aktivan (ketidak-pekaan) mereka untuk memberi dukungan dalam berbagai wujud gagasan akademis kepada para pengkritik, pemberi masukan. Orang-orang yang memberikan masukan kritis terhadap kemungkinan pelanggaran atau penyimpangan yang dilakukan aktor-aktor di univesitas itu berkorban demi kebajikan organisasi Unsyiah. Boleh jadi, sikap diam atau pertisipasi pasif para warga jambo dapat (tanpa sadar) mendukung sikap EGP para pimpinan lembaga.
Jadi, untuk memungkinkan pengejawantahan prinsip-prinsip good governance (and clean higher education management) kita butuh (komitmen) bersama dalam rangka untuk menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Melalui milis ini perkenankan saya menyerukan "wahai para intelektual kampus yang menjunjung tinggi moralitas pribadi dan integritas keilmuan, marilah kita mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai keperdulian, saling memperingati, menasihati, dan menjaga amanah untuk mencerahkan ummat manusia melalui administrasi dan pengelolaan perguruan tinggi" demi mencerdaskan bangsa kita, calon lulusan Unsyiah yang kreatif dan inovatif.
Jika boleh dipertanyakan: Gejala apa sebetulnya yang telah dan sedang berlangsung di lingkungan internal universitas kita ini? Apakah ada medium lain yang relatif "rational" untuk memungkinkan mengakomodasi berbagai komplain warga yang dapat menguntungkan upaya pengembangan Unsyiah? Mengapa para pimpinan cenderung "alergi" terhadap kritik-kritik dari para warga komunitas ilmiah Unsyiah ini? Apa dan bagaimana cara kita memecahkan atau membuat solusi secara bersama untuk mengatasi semua persoalan yang kontradiktif dengan tujuan merealisasikan kejujuran, kebenaran, dan keadilan bagi sesama insan, utamanya komunitas akademis?  
Demikianlah, semoga seruan ini bisa memberikan motivasi dan keberanian kita secara bersama untuk melawan kebatilan dalam ruang lingkup lingkup amar makruf nahi mungkar Unsyiah. Untuk itu saya mohon masukan dan sanggahan dari para warga milis semua. Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca.
Salam hormat  

Problem Solving Definition



Defining the problem/
gathering information

http://www.studygs.net/problem/problem1.gifDefine the Problem
What prevents you from reaching your goal?
You may need to state the problem in broad terms since the exact problem may not be obvious.
  • you may lack information to define it
  • you can confuse symptoms with underlying causes
Prepare a statement of the problem and find someone you trust to review it and to talk it over. If the problem is a job situation, review it with your supervisor or the appropriate committee or resource.
Consider these questions:
  • What is the problem?
  • Is it my problem?
  • Can I solve it? Is it worth solving?
  • Is this the real problem, or merely a symptom of a larger one?
  • If this is an old problem, what's wrong with the previous solution?
  • Does it need an immediate solution, or can it wait?
  • Is it likely to go away by itself?
  • Can I risk ignoring it?
  • Does the problem have ethical dimensions?
  • What conditions must the solution satisfy?
  • Will the solution affect something that must remain unchanged?

Causes!

When problem solving, identify the causes of the problem in order to solve it.
  • Identify causes of your problem
    Look at the current situation, rather than its history
    Do not consider the "trouble" it creates whether now or in the future.
  • List and organize the causes of the problem

Fishikawa/Ishikawa diagram/Fishbone diagram

Fishi-kawa! Ishikawa diagrams! Fishbone diagrams! *

Similar to the practice of concept mapping and brainstorming,
place each "cause" along a line that ends in a box identifying a problem
creating your very own fishbone diagram.

At the beginning brainstorm and identify all the possible causes.
One strategy is to use post-it notes for each cause,
then paste them into your "graph" along the "spine" for a visual representation,
either on a whiteboard, flipchart, or other large surface that can be modified.
If some causes relate to others, you can develop layers connecting and extending out from the first rays. As you develop your diagram, arrange the causes toward the fishhead/problem to indicate importance.
Identify/map all the causes before considering solutions to the problem.
What are examples of causes of the problem?
  • People
    Are there enough participants to help?
    Are the participants' skills adequate?
    Are some participants perceived as not helpful?
  • Resources
    Are there enough, for example funding?
    Are some not identified?
    Are some not used effectively, or mis-placed?
  • Environment
    Is it conducive to problem solving? Is there too much stress?
    Is the power structure (administration or line of authority) supportive?
    Is the power structure (administration or line of authority) aware of the problem?
  • Processes, procedures and rules
    Are they understood, or badly defined?
    Are they perceived as an obstacle?
  • Vocabulary/terminology/concepts
    Is there an agreed-upon vocabulary, and understanding of their meanings and definitions?
    Are some "hidden"?

Working with the diagram:

  • Consider all the causes and rank them in importance
    either on their post-its, or by circles with numbers etc.
  • Examine relationship
    Drop some causes to secondary levels, or off the chart to indicate irrelevance.
* The Ishikawa Diagram was developed by Kaoru Ishikawa (1968) with applications in manufacturing and later published in "Introduction to Quality Control (1990. It was first used in the 1940s, and is considered one of the seven basic tools of quality control.[4] It is known as a fishbone diagram because of its shape, similar to the side view of a fish skeleton. Mazda Motors used the procedure in the development of the Miata sports car. "Every factor identified in the diagram was included in the final design." http://www.studygs.net/problem/problem2.gif

Gathering Information

Stakeholders
Individuals, groups, organizations that are affected by the problem, or its solution.  Begin with yourself. Decision makers and those close to us are very important to identify.
Facts & data
  • Research
  • Results from experimentation and studies
  • Interviews of "experts" and trusted sources
  • Observed events, past or present, either personally observed or reported
Boundaries
The boundaries or constraints of the situation are difficult to change. They include lack of funds or other resources. If a solution is surrounded by too many constraints, the constraints themselves may be the problem.

Opinions and Assumptions
Opinions of decision makers, committees or groups, or other powerful groups will be important to the success of your decision. It is important to recognize truth, bias, or prejudice in the opinion.
Assumptions can save time and work since is often difficult to get "all the facts." Recognize that some things are accepted on faith. Assumptions also have a risk factor, must be recognized for what they are, and should be discarded when they are proven wrong.
Problem solving overview

1. Defining the problem/considering causes/gathering information |
2. Developing/weighing alternatives |
3. Implementing decisions/monitoring progress |
4. Graphic overview of process |
Adaptive decision making | Managing by exception | Managing stress |
Motivating yourself | Problem based learning

Apa Itu Identifikasi Masalah, Batasan Masalah, dan Rumusan Masalah?



Identifikasi masalah, batasan masalah, serta rumusan masalah

A. Identifikasi Masalah
Konsep identifikasi masalah (problem identification) adalah proses dan hasil pengenalan masalah atau inventarisasi masalah. Dengan kata lain, identifikasi masalah adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting di antara proses lain. Masalah penelitian (research problem) akan menentukan kualitas suatu penelitian, bahkan itu juga menentukan apakah sebuah kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak. Masalah penelitian secara umum bisa ditemukan melalui studi literatur (literature review) atau lewat pengamatan lapangan (observasi, survey), dan sebagainya.

Masalah penelitian bisa didefinisikan sebagai pernyataan yang mempersoalkan suatu variabel atau hubungan antara satu atau lebih variabel pada suatu fenomena. Sedangkan variabel itu sendiri dapat didefinisikan sebagai konsep yang memuat nilai bervariasi, pembeda antara sesuatu dengan yang lain. Dalam suatu studi yang menggunakan alur-pikir deduktif kerapkali ditampilkan definisi operasional variabel, dan dalam penelitian kualitatif variabel itu seringkali disebut konsep, misalnya definisi konseptual.

Beberapa hal yang dijadikan sebagai sumber masalah adalah:
1. Bacaan. Sumber bacaan bisa dari jurnal-jurnal penelitian yang berasal dari laporan hasil-hasil penelitian yang dapat dijadikan sumber masalah, karena laporan penelitian yang baik tentu saja mencantumkan rekomendasi untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan tema penelitian bersangkutan. Suatu penelitian sering tidak mampu memecahkan semua masalah yang telah teridentifikasi karena ada berbagai keterbatasan peneliti atau ruang lingkup penelitian itu. Hal ini menuntut adanya penelitian lebih lanjut dengan mengangkat masalah-masalah yang belum terpecahkan. Selain jurnal penelitian, bacaan lain yang bersifat umum juga dapat dijadikan sumber masalah misalnya buku-buku bacaan terutama buku bacaan yang mendeskripsikan gejala-gejala dalam suatu kehidupan yang menyangkut dimensi sains dan teknologi atau bacaan yang berupa tulisan yang dimuat dimedia cetak.

2. Pertemuan Ilmiah. Masalah penelitian dapat diperoleh melalui pertemuan-pertemuan ilmiah, seperti seminar, konferensi nasional dan internasional diskusi. Lokakarya, simposium dan sebagainya. Dengan pertemuan ilmiah seperti itu akan muncul berbagai permasalahan yang memerlukan jawaban melalui penelitian.

3. Pernyataan Pemegang Kekuasaan (Otoritas). Orang yang mempunyai kekuasaan atau otoritas cenderung menjadi figure publik yang dianut oleh orang-orang yang ada dibawahnya. Sesuatu yang diungkapkan oleh pemegang otoritas tersebut dapat dijadikan sumber masalah. Pemegang otoritas di sini dapat mencakup aspek formal dan non formal.

4. Observasi (pengamatan). Pengamatan yang dilakukan seseorang peneliti tentang sesuatu yang direncanakan ataupun yang tidak direncanakan, baik secara sepintas ataupun dalam jangka waktu yang cukup lama, terstruktur atau tidak terstruktur, itu dapat melahirkan suatu masalah. Contoh: Seorang pendidik menemukan masalah dengan melihat (mengamati) sikap dan perilaku peserta didiknya dalam proses belajar mengajar.

5. Wawancara dan Angket. Melalui wawancara kepada masyarakat mengenai sesuatu kondisi aktual di lapangan dapat menemukan masalah apa yang sekarang dihadapi masyarakat tertentu. Demikian juga dengan menyebarkan angket kepada masyarakat akan dapat menemukan apa sebenarnya masalah yang dirasakan masyarakat tersebut. Kegiatan ini dilakukan biasanya sebagai studi awal untuk mengadakan penjajakan tentang permasalahan yang ada di lapangan dan juga untuk menyakinkan adanya permasalahan-permasalahan di masyarakat.

6. Pengalaman. Pengalaman dapat dikatakan sebagai guru yang paling baik. Tetapi tidak semua pengalaman yang dimiliki seseorang (peneliti) itu selalu positif, tetapi kadang-kadang sebaliknya. Pengalaman seseorang baik yang diperolehya sendiri maupun dari orang (kelompok) lain, dapat dijadikan sumber masalah yang dapat dijawab melalui penelitian.

7. Intuisi. Secara intuitif manusia dapat melahirkan suatu masalah. Masalah penelitian tersebut muncul dalam pikiran manusia pada saat-saat yang tidak terencanakan.
Ketujuh faktor di atas dapat saling mempengaruhi dalam melahirkan suatu pokok permasalahan penelitian, dan itu dapat juga berdiri sendiri dalam mencetuskan suatu masalah. Jadi, untuk mengindentifikasi masalah dapat dilakukan melalui sumber-sumber bacaan yang memungkinkan lahir masalah-masalah penelitian seperti di atas. Sumber-sumber keilmuan yang membawa masalah-masalah tersebut dapat saling berinteraksi dalam menentukan masalah penelitian, dapat juga melalui salah satu sumber saja.

Setelah masalah-masalah penelitian dapat diindentifikasi, selanjutnya perlu dipilih dan ditentukan peneliti masalah-masalah yang akan diangkat dalam suatu rancangan penelitian. Untuk memilih dan menentukan masalah yang layak untuk diteliti, perlu mempertimbangkan kriteria problematika yang tertata baik.

B. PERUMUSAN MASALAH
Suatu rumusan masalah itu ditandai dengan pertanyaan penelitian, yang umumnya disusun dalam bentuk kalimat tanya, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi arah kemana sebenarnya penelitian akan dibawa, dan apa saja sebenarnya yang ingin dikaji/dicari tahu oleh si peneliti.
Masalah yang dipilih haruslah menampilkan “researchable”, dalam artian bahwa suatu masalah itu dapat diselidiki secara ilmiah. Masalah tersebut perlu dirumuskan secara jelas agar dengan demikian perumusan masalahnya jelas. Peneliti diharapkan dapat mengetahui variabel-variabel atau faktor-faktor apa saja yang akan diukur, dan apakah ada alat-alat ukur yang sesuai untuk mencapai tujuan penelitian. Dengan rumusan masalah yang jelas akan dapat dijadikan penuntun bagi langkah-langkah selanjutnya. Hal ini sesuai dengan pandangan yang dinyatakan oleh Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wallen (1990:23) bahwa salah satu karakteristik formulasi pertanyaan penelitian yang baik, yaitu pertanyaan penelitian harus clear. Artinya pertanyaan penelitian yang diajukan hendaknya disusun dengan kalimat yang jelas, tidak membingungkan. Dengan pertanyaan yang jelas akan mudah mengidentifikasi variabel-variabel atau faktor-faktor apa yang ada dalam pertanyaan penelitian tersebut, dan berikutnya memudahkan dalam mendefenisikan konsep atau variabel dalam pertanyaan penelitian. Dalam memberikan defenisi konseptual atau variable tersebut dapat dengan cara-cara: (1) constitutive definition, yakni dengan pendekatan kamus (dictionary approach); (2), contoh atau by example; dan (3) operational definition, yakni mendefenisikan istilah, konsep atau variabel penelitian secara spesifik, terinci dan operasional.

Berdasarkan pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah penelitian, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Rumusan masalah hendaknya singkat dan bermakna. Masalah perlu dirumuskan dengan singkat dan padat tidak berbelit-belit yang dapat membingungkan pembaca. Masalah dirumuskan dengan kalimat yang pendek tapi bermakna.
2. Rumusan masalah hendaknya ditungkan dalam bentuk kalimat tanya. Masalah akan lebih tepat disajikan apabila dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, bukan pernyataan.
3. Rumusan masalah hendaknya jelas dan kongkrit. Artinya, dengan rumusan masalah yang jelas dan kongkrit itu akan memungkinkan peneliti secara eksplisit terarah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan: apa yang akan diselidiki, siapa yang akan diselidiki, mengapa diselidiki, bagaimana pelaksanaannya, bagaimana melakukannya, dan apa tujuan yang diharapkan.
4. Masalah hendaknya dirumuskan secara operasional. Sifat operasional dari rumusan masalah akan memungkinkan peneliti memahami variabel-variabel atau konsep-konsep dan sub-subnya yang ada dalam penelitian dan bagaimana peneliti dapat mengukurnya.
5. Rumusan masalah hendaknya mampu member petunjuk tenang memungkinkannya pengumpulan data di lapangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam masalah penelitian tersebut.
6. Perumusan masalah haruslah dibatasi ruang-lingkupnya sehingga itu memungkinkan penarikan simpulan yang jelas dan tegas. Kalau itu disertai rumusan masalah yang bersifat umum, hendaknya disertai penjabaran-penjabaran yang spesifik dan operasional.

C. Batasan Masalah
Batasan masalah adalah ruang lingkup masalah atau upaya membatasi ruang lingkup masalah yang terlalu luas atau lebar sehingga penelitian itu lebih bisa fokus untuk dilakukan. Hal ini dilakukan agar pembahasannya tidak terlalu luas kepada aspek-aspek yang jauh dari relevansi sehingga penelitian itu bisa lebih fokus untuk dilakukan. Berdasarkan sekian banyak masalah tersebut dipilihlah satu atau dua masalah yang akan dipermasalahkan, tentu yang akan diteliti (lazim disebut dengan batasan masalah, limitation). Batasan masalah, dengan demikian,  adalah pemilihan satu atau dua masalah dari beberapa masalah yang sudah teridentifikasi.

Batasan masalah itu dalam arti kata lain sebenarnya menegaskan atau memperjelas apa yang menjadi masalah. Dengan kata lain, upaya merumuskan pengertian dan menegaskan batasan  dengan dukungan data hasil penelitian pendahuluan seperti apa “sosok” masalah tersebut. Misalnya, jika yang dipilih itu mengenai “prestasi kerja karyawan yang rendah” dipaparlah (dideskripsikanlah) “kerendahan” prestasi kerja itu seperti apa (misalnya kehadiran kerja seberapa rendah, keseriusan kerja seberapa rendah, kuantitas hasil kerja seberapa rendah, kualitas kerja seberapa rendah).
Batasan masalah dapat pula dipahami sebagai batasan pengertian masalah, yaitu penegasan secara operasional (definisi operasional) masalah tersebut yang akan memudahkan untuk melakukan penelitian (pengumpulan data) tentangnya. Misalnya, dalam contoh di atas, prestasi kerja mengandung aspek kehadiran kerja (ketepatan waktu kerja), keseriusan atau kesungguhan kerja (benar-benar melakukan kegiatan kerja ataukah malas-malasan dan buang-buang waktu, banyak menganggur), kuantitas hasil kerja (banyaknya karya yang dihasilkan berbanding waktu yang tersedia), dan kualitas hasil kerja (kerapihan, kecermatan dan sebagainya dari hasil karya).
Pilihan makna yang mana yang akan diikuti sebenarnya itu tidak masalah. Idealnya adalah bahwa: (1) membatasi (memilih satu atau dua) masalah yang akan diteliti (pilih satu atau dua dari yang sudah teridentifikasi); (2) menegaskan pengertiannya; dan (3) memaparkan data yang memberikan gambaran lebih rinci mengenai “sosoknya.”. Umpamanya: jika masalah itu berupa “prestasi kerja karyawan yang rendah” (yang dipilih dari, misalnya: kreativitas kerja yang rendah, kemampuan berinisiasi yang rendah, kerja sama (kolegialitas) yang rendah, loyalitas yang rendah, dan lainnya), maka yang akan diteliti (dipilih, dibatasi) tentu mengenai kerendahan prestasi kerja karyawan, bukan mengenai faktor penyebab rendahnya prestasi kerja karyawan, atau upaya memotivasi karyawan. Jika yang jadi masalah itu kekurangan fasilitas (sarana prasarana) pendidikan, maka yang disebutkan (dituliskan) adalah bahwa yang akan diteliti (dipilih, dibatasi) adalah masalah kekurangan fasilitas, bukan pengelolaan fasilitas. Kekurangan fasilitas dan pengelolaan fasilitas merupakan dua hal yang berbeda [Ada masalah apa juga dengan pengelolaan fasilitas? “Pengelolaan fasilitas” bukan masalah, itu topik atau tema! Lain jika “salah kelola fasilitas” atau “ketidakefektivan pengelolaan fasilitas”].

Referensi:
Cholid Narbuko, dkk. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Hartono. 2011. Metodologi Penelitian. Pekanbaru: Zanafa Publishing.
M. Iqbal Hasan, 2002. Metodologi Penelitian. Ghalia Indonesia.
Sukandarrumidi. 2002. . Metodologi Penelitian. Yoghyakarta: Gadjah Mada Univercity Press.