Selasa, 05 April 2016

Refleksi Untuk Pengembangan Universitas


Ini adalah bagian resume pandangan dan masukan para anggota mailing-list (milis) Unsyiah.
Betapa civitas akademika Unsyiah menanggung Harapan kepada Guru Besar (dalam ruang Droe keu Droe, Serambi Indonesia, 3 Oktober 2010)? Berikut ini ada opini dan berbagai tanggapan anggota milis. Misalnya, ada surat pembaca seperti ini. Bertambahnya guru besar di Unsyiah merupakan capaian positif bagi universitas yang ingin menjadi world class university. Dengan bertambahnya guru besar diharapkan Unsyiah makin maju dalam pendidikan dan mampu berinovasi guna melahirkan berbagai sarjana yang bisa berbuat demi kemajuan daerah dan negara….. Konon lagi Unsyiah hampir memasuki usia emas, 50 tahun alias setengah abad. Semoga para guru besar lebih peduli memikirkan pengembangan pendidikan ketimbang memikirkan posisi-posisi politik baik di universitas maupun di pemerintahan. Bersaing untuk menghasikan penemuan baru di bidang pendidikan adalah tugas mulia daripada menyibukkan diri bersaing dalam bursa pemilihan rektor atau kepala pemerintahan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Banyak yang harus dibenahi di internal Unsyiah.
Semoga korps guru besar yang sudah dimiliki Unsyiah saat ini mampu mengembangkan dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan bangsa, serta mampu memperbaiki kualitas universitas, sehingga menjadi universitas berkelas dunia. Pertanyaannya, apakah para guru besar yang sudah berjumlah 39 orang di Unsyiah mampu mewujudkan hal itu? Apakah para guru besar mampu meningkatkan kualitas Unsyiah di mata dunia internasional? Apakah keberadaan para guru besar yang kian bertambah benar-benar dapat menjadikan Unsyiah sebagai world class university? Demikian surat pembaca dari Yuhdi Fahrimal, mahasiswa FISIP Unsyiah.
Salah salah seorang anggota milis memberikan tanaggapan bahwa “para guru besar itu lebih banyak menjadi anggota senat Universitas supaya bisa memilih rektor ketimbang berkarya untuk memajukan Universitas ini”. Anggota yang lain mengatakan “berdasarkan phenomena (masukan atau kritikan civitas akademika) itu bisa disimpulkan ada something wrong dengan sistem yang berjalan di universitas saat ini. Paling tidak timbul kesan bahwa di Unsyiah belum adanya sarana untuk mengakomodir saran atau kritikan dari segenap civitas akademika terhadap sistem yang ada. Fasilitas yang ada hanya merupakan kelengkapan belaka sehingga tidak ada follow-up atas saran atau kritikan yang telah disampaikan.
Konsekuensi dari kondisi ini adalah seseorang yang merasa tidak puas dengan sistem yang ada akan mencari sarana lain untuk mengungkapkan segala ketidakpuasannya. Tentu hal ini sangat disayangkan, di mana persoalan yang harusnya bisa diselesaikan secara internal berubah menjadi konsumsi publik. Kondisi ini tentu akan memperparah keterpurukan Unsyiah di mata masyarakat. Untuk itu demi kebaikan Unsyiah di masa yang akan datang, saya fikir ada baiknya kita kembali mengiatkan kegiatan-kegiatas diskusi di antara segenap civitas akademika untuk menganalisis apakah sistem yang berjalan saat ini sudah sesuai dengan yang diharapkan atau sebaliknya. Lebih jauh, saran dan kritikan sebaiknya sesegera mungkin difollow-up secara transparent dan accountable sesuai dengan mekanisme yang ada. Dengan demikian masalah-masalah yang sifatnya internal tidak lagi menjadi konsumsi publik dan dapat diselesaikan sebagaimana mestinya”.  
Lebih jauh, ada tanggapan lain yang menyatakan keraguannya atas harapan-harapan yang ditujukan kepada para guru besar seperti dalam tulisan Yuhdi Fahrimal di dalam Droe keu Droe. Dipertanyakan seberapa banyak hasil pemikiran berupa ide perkembangan dan perbaikan dari para guru besar yang telah disampaikan dalam forum atau dalam berbagai kesempatan? Padahal suara (tulisan) mereka jauh lebih bermakna & bergema daripada suara dosen biasa.
Anggota milis lain memberikan sinyalemen seperti berikut. “Saya dengar kita sudah "kehilangan tempat" untuk berdiskusi di Unsyiah, sehingga harus ke Brastagi. Jangan salahkan orang lain, karena kita ikut2an membangun ekonomi tetangga, walaupun rumah kita masih rewot”. Kemudian ada respon yang mempunyai makna subjektif tertentu bahwa “ke Berastagi dingin pak seperti Takengon; ke Berastagi jauh dari kedai kopi sehingga lebih konsentrasi; ke  Berastagi bisa butuh waktu 2 hari volume kerja pergi dan pulang”.
Ada warga milis yang member komentar begini. “Tidak apalah, memang Brastagi itu sejuk nan indah, apalagi kalau nginap nya di Mikie Holiday Hotel and Resort, tentu membuat pikiran sejuk, jernih dan cemerlang. Saya kira itu masih sah-sah sajalah, asalkan hasil/manfaatnya besar bagi Unsyiah. Brastagi pun masih NKRI, daripada seperti yang dilakukan Dewan Kehormatan DPR RI yang study banding ke negara Yunani itu, kan lebih baik di Brastagi ya kan?”
Anggota milis lain memberikan komentar bahwa “Unsyiah sudah mempunyai banyak staf pengajar lulusan luar negeri dalam berbagai bidang, baik untuk tingkat Master ataupun Doktor. Tentunya mereka yang studi di luar negeri memiliki pengalaman yang dapat diterapkan di Unsyiah walaupun memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai yang benar-benar optimal. Kebanyakan orang hanya bisa menyarankan dan juga mengkritik, tapi jarang yang mau melakukan sesuai dengan apa yang telah disarankan kepada orang lain. Misalnya, sebagai staf pengajar kita menyarankan mahasiswa untuk lebih banyak belajar secara mandiri, tapi apakah kita selaku staf pengajar telah benar-benar siap dalam memberikan materi kepada mahasiswa. Terkadang kita tidak masuk mengajar dengan sengaja, mahasiswa telah menunggu, boleh jadi pada saat tersebut kita tidak ada keperluan atau agenda apapun. Marilah kita perbaiki, termasuk diri saya sendiri, apa yang seharusnya perlu diperbaiki secara bersama-sama, dalam hal ini semua komponan civitas akademika Unsyiah”.
Anggota milis lain memberikan pendapat seperti ini. “Tetap optimislah, apalagi prof kita semakin banyak, kita doakan mudah2an kedepan akan bisa lebih banyak hasil karya para guru besar kita demi kemajuan unsyiah dan NAD. Program evaluasi kinerja para Prof yang mulai dijalankan sejak tahun ini menstimulasi energi besar kearah itu”.
Ada juga warga milis yang menjawab begini. “Sudah seharusnya kita menaruh harapan besar pada para Guru Besar kita (terutama pada mereka yang baru diangkat), tapi mohon jangan pula kita lupakan jasa para Guru Besar yang telah mendahului kita atau beliau-beliau yang masih ada namun tidak aktif lagi berkarya dlilingkungan akademia (dengan kata lain sudah pensiun). Tanpa mereka, Unsyiah juga bukan apa-apa.
Berdasarkan opini dan berbagai tanggapan tersebut perkenankan saya menyatakan "sangat setuju" pada semua itu. Misalnya, statement Doktor Izarul Machdar bahwa "...Unsyiah tidak punya "mekanisme komplain" yang baik yang harusnya bisa dibangun melalui sistem Monitoring dan Evaluasi". Itu adalah masukan sangat berguna dan konstruktif. Demikian pula semua gagasan lain akan bermanfaat jika dilihat dari sudut pandang moralitas keilmuan, “kerendahan hati”.
Saya telah mencoba mengamati (dengan andalan observation from within) beberapa tindakan (subjective meaning) sebagian pimpinan baik pada level universitas (Kantor Pusat Administrasi, KPA-Unsyiah) kita dan ataupun unit-unit lain di bawahnya. Sejauh ini saya memberanikan diri untuk menyatakan secara hipotetis respon para pimpinan kita tidak cukup menggembirakan. Mereka tidak memperlihatkan isyarat "welcome" yang memadai terhadap keluhan-keluhan, kritikan-kritikan, dan bahkan anjuran-anjuran para civitas akademika, utamanya para anggota mailing-list (milis) jambo ini untuk perbaikan dan kemajuan bersama.
Di satu sisi, berbagai masukan baik melalui cara-cara penyampaian yang "soft style" maupun "hard style" telah disajikan oleh sejumlah anggota milis. Namun demikian dapat dikatakan amat sedikit respon yang nyata (signifikan) dari para pimpinan institusi. Dalam beberapa kesempatan PR1 sempat memberikan tanggapan atas masukan warga jambo. Sebagian pimpinan lain cenderung membiarkan saja ("Emang Gue Pikirin", EGP aja) pelbagai masukan dari warga milis. Pembiaran ini dapat menjurus (sengaja or tidak sengaja) pada "pembusukan", pembunuhan watak penulis (kritikus) yang memberi masukan, nasihat, ingatan demi perubahan atau kebajikan. Sebagaimana disetir beberapa warga milis melalui beberapaa doktrin spiritual betapa pentingnya kita saling menasihati dan mengingati dalam upaya mewujudkan kebenaran, kejujuran dan keadilan di lingkungan komunitas akadmis Unsyiah.
Di sisi lain, tidak sedikit warga milis juga menunjukkan ketidak-aktivan (ketidak-pekaan) mereka untuk memberi dukungan dalam berbagai wujud gagasan akademis kepada para pengkritik, pemberi masukan. Orang-orang yang memberikan masukan kritis terhadap kemungkinan pelanggaran atau penyimpangan yang dilakukan aktor-aktor di univesitas itu berkorban demi kebajikan organisasi Unsyiah. Boleh jadi, sikap diam atau pertisipasi pasif para warga jambo dapat (tanpa sadar) mendukung sikap EGP para pimpinan lembaga.
Jadi, untuk memungkinkan pengejawantahan prinsip-prinsip good governance (and clean higher education management) kita butuh (komitmen) bersama dalam rangka untuk menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Melalui milis ini perkenankan saya menyerukan "wahai para intelektual kampus yang menjunjung tinggi moralitas pribadi dan integritas keilmuan, marilah kita mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai keperdulian, saling memperingati, menasihati, dan menjaga amanah untuk mencerahkan ummat manusia melalui administrasi dan pengelolaan perguruan tinggi" demi mencerdaskan bangsa kita, calon lulusan Unsyiah yang kreatif dan inovatif.
Jika boleh dipertanyakan: Gejala apa sebetulnya yang telah dan sedang berlangsung di lingkungan internal universitas kita ini? Apakah ada medium lain yang relatif "rational" untuk memungkinkan mengakomodasi berbagai komplain warga yang dapat menguntungkan upaya pengembangan Unsyiah? Mengapa para pimpinan cenderung "alergi" terhadap kritik-kritik dari para warga komunitas ilmiah Unsyiah ini? Apa dan bagaimana cara kita memecahkan atau membuat solusi secara bersama untuk mengatasi semua persoalan yang kontradiktif dengan tujuan merealisasikan kejujuran, kebenaran, dan keadilan bagi sesama insan, utamanya komunitas akademis?  
Demikianlah, semoga seruan ini bisa memberikan motivasi dan keberanian kita secara bersama untuk melawan kebatilan dalam ruang lingkup lingkup amar makruf nahi mungkar Unsyiah. Untuk itu saya mohon masukan dan sanggahan dari para warga milis semua. Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca.
Salam hormat  

Tidak ada komentar: