Para pengrajin ilmu pengetahuan, utamanya peminat
metodologi.
Saya seringkali pada saat diskusi intelektual tertentu mempersoalkan
atau bahkan berangkat dari definisi. Seakan jika istilah-istilah atau
konsep-konsep yang digunakan orang-orang dalam suatu pembicaraan dan permasalahan
jelas definisinya, pemahaman pokok bahasan itu tidak lagi terlalu sulit untuk
dicapai dan didiskusikan upaya kesepahaman dan kesepakatan yang dapat
disimpulkan secara hipotetis.
Sebetulnya berbicara mengenai definisi itu artinya kita masih
berkisar dalam lingkungan perdebatan konseptual. Adapun perihal yang khas pada
definisi itu adalah upaya mengeksplisitkan unsur-unsur isi (konprehensi) dalam
satu atau lebih konsep. Pengetahuan menegnai hal-ikhwal konkrit yang de facto adalah pengetahuan yang
bersifat intuitif atas hakekat suatu pokok masalah yang diperoleh secara
fenomenologis. Itu secara definitorik perlu diterapkan atau ditegaskan dalam
keseluruhannya yang lengkap melalui pengertian-pengertian abstrak sehingga
ikhwal itu dapat terpakai dalam diskusi dan tukar-pikiran berkelanjutan.
Dalam proses diskusi dan membaca tidak jarang orang-orang
menemukan kata-kata, istilah-istilah, konsep-konsep yang tidak memiliki
kejelasan atau kepastian melalui konteksnya. Untuk memahami arti kata, istilah,
konsep itu dibutuhkan definisi konseptual atau operasional sehingga dengan
demikian tampak bahwa salah satu tujuan definisi adalah untuk menambah
perbendaharaan bahasa bagi orang yang tidak cukup pengetahuan pada pokok pembicaraan tersebut.
Di samping itu, tujuan definisi adalah untuk mengatasi jika
tidak mungkin menghapuskan kedwiartian, kemenduaan-makna kata, istilah, konsep, utamanya untuk kata-kata kunci,
supaya proses tukar-pikiran tidak mudah mengarah pada kesalahan berpikir dan
itu tidak sekadar bersifat verbal. Pada pembicaraan lanjutan tentu kemungkinan
sedikit pengetahuan tentang arti kata sudah dapat diatasi meskipun masih mungkin
ketidakpastian batas-batas penerapannya. Nah, dalam hal itulah definisi amat
perlu dikerjakan.
Penggunaan kata-kata dari bahasa lokal (daerah) ke dalam
bahasa nasional (persatuan) ternyata disertai pengembangan arti dan pengertian
yang lain dari arti atau bahkan konotasi dari pengertian semula di lingkungan
pengguna bahasa daerah. Tanpa definisi yang jelas dalam suatu pembicaraan yang
serius hal itu akan mengundang kesalahpahaman di antara orang-orang. Demikian
pula halnya banyak istilah dan konsep teknis ilmiah tidak jarang menggunakan
kata-kata yang sama bentuk dan bunyinya dengan kata-kata dari bahasa pergaulan
sehari-hari, tetapi sebagai bahasa ilmiah kata atau istilah-istilah itu telah
diberi arti oleh pembicara. Untuk menghindari campuraduk kata-kata dalam bahasa
awam dan ilmiah para peneliti dan ilmuwan penting menjelaskan arti yang secara
teoretis dilekatkan pada kata-kata, istilah-istilah, konsep-konsep tersebut
melalui definisi.
Demikianlah beberapa tujuan definisi. Secara praktis orang-orang kerapkali larut dan terbenam dalam kata-kata, istilah-istilah, konsep-konsep yang diterima begitu saja. Pemakaian kata, istilah, konsep yang tidak jelas sesuai tempatnya dapat menyebabkan kesalahapahaman dalam komunikasi. Pemakaian kata, istilah, konsep yang sama dengan arti yang berbeda dalam suatu ajang tukar-pikiran dapat memberikan kesan seolah-olah terjadi perlawanan pendapat, padahal yang sebenarnya terjadi adalah penggunaan proposisi-proposisi yang berbeda, bukan proposisi-proposisi yang berlawanan. Proposisi itu adalah suatu rangkaian penuturan (assertion) yang utuh. (Lihat Poespoprodjo, W. Logika Scientifika. Pustaka Grafika, Bandung. 1999).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar