Kamis, 03 Februari 2011

Kritik Teori dan Teori Kritik


[jambo_unsyiah] Kritik Teori & Teori Kritik
Monday, January 31, 2011 10:01 PM
From: "saleh sjafei"
To: "Jambo UNsyiah"

Saleum untuk bandum rakan,
Pertama+tama saya mohon maaf tulisan ini lebih teoretis dan relatif lebih panjang. Bahwa dalam dunia keilmuan, penelitian, dan kajian-kajian ilmiah istilah teori sudah lazim dibicarakan para civitas akademika, utamanya melalui literatur review dan theoretical framework. Apa dan bagaimana hubungan penelitian yang akan atau sedang diselenggarakan dengan berbagai hasil penelitian terdahulu dalam bidangnya. Secara sederhana teori merupakan penjelasan tentang suatu gejala atau pokok permasalah yang telah dipelajari oleh ilmuan, peneliti, atau pengaji dengan andalan perangkat metodologi ilmiah. Teman-teman warga jambo yang telah menempuh jenjang pendidikan doktoral, misalnya, kegiatan berteori mestinya menjadi salah satu kegemaran mereka.
Diskusi teoretik adalah kebiasaan yang digelutinya baik formal ataupun informal. Dalam beberapa kesempatan saya pernah menyitir bahwa capaian gelar doctor of philosophy), antara lain, tentunya mereka sudah terlibat dengan pemikiran teoretis (jalinan rasional-empiris, deduksi-induksi logis) untuk melahirkan new knowledge generation. Namun, apa kemungkinan sebab-sebabnya mereka jarang menunjukkan refleksi kerja teoretis itu dalam praktik sosial dan pergaulan komunitas akademis, sebutlah diskusi melalui jambo_unsyiah?   
Di kalangan atau bidang natural science ada banyak teori yang terkenal dan tidak diragukan lagi kegunaannya. Umpamanya, teori Newton yang kemudian dikritik dengan teori Einstein, dan sebagainya. Dengan kritikan atau dialektika itu akan terjadi perkembangan atau kemajuan dalam berbagai capaian akademis.

Lebih jauh, ....di kalangan para pemikir kritis, misalkan lingkungan mazhab frankfurt, termasuk Habermas, mereka cenderung bekerja sebagai ilmuan tidak untuk mencari "kesamaan pandangan", melainkan mereka gandrung pada "perbedaan wacana dan opini". Bagi mereka, "kerukunan" adalah racun bagi pemikiran (filosofis) keilmuan, dan "keselarahan" sebagai pertanda (beduk) lonceng kematian bagi para pemikir yang kreatif.
Dalam perjalanan kehidupan dan hubungan antar manusia menjadi rukun, mereka harus menikmati keadilan, dan supaya mereka bisa adil, mereka harus berpikir kritis, artinya ada inisiasi dan motivasi mereka untuk menolak kepuasan intelektual yang hanya mencari kesamaan saja.
Demikianlah para pemikir kritis, mereka cenderung untuk tidak sepaham antara satu sama lain. Mereka lebih suka utuk saling menanggapi dan saling mengajukan kritik atas opininya masing-masing. Perihal yang dapat mendorong mereka bersatu adalah penolakan atas argumen yang bersifat ideologis, dengan meneruskan pemikiran Marx secara kritis dan anti-dogmatis, seperti "Marxisme Resmi".

Demikianlah, saya mohon maaf atas keasyikan menulis yang teoretis dan panjang sekali. Semoga ada masukan dan kritikan dari para warga jambo_unsyiah. Tanpa tanggapan yang kritis hampir dapat dikatakan sebuah pandangan tidak ada manfaatnya.
Salam hormat, saleh sjafei