Jumat, 12 November 2010

Refleksi Untuk Pengembangan Universitas


Ini adalah bagian resume pandangan dan masukan para anggota mailing-list (milis) Unsyiah.
Betapa civitas akademika Unsyiah menanggung Harapan kepada Guru Besar (dalam ruang Droe keu Droe, Serambi Indonesia, 3 Oktober 2010)? Berikut ini ada opini dan berbagai tanggapan anggota milis. Misalnya, ada surat pembaca seperti ini. Bertambahnya guru besar di Unsyiah merupakan capaian positif bagi universitas yang ingin menjadi world class university. Dengan bertambahnya guru besar diharapkan Unsyiah makin maju dalam pendidikan dan mampu berinovasi guna melahirkan berbagai sarjana yang bisa berbuat demi kemajuan daerah dan negara….. Konon lagi Unsyiah hampir memasuki usia emas, 50 tahun alias setengah abad. Semoga para guru besar lebih peduli memikirkan pengembangan pendidikan ketimbang memikirkan posisi-posisi politik baik di universitas maupun di pemerintahan. Bersaing untuk menghasikan penemuan baru di bidang pendidikan adalah tugas mulia daripada menyibukkan diri bersaing dalam bursa pemilihan rektor atau kepala pemerintahan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Banyak yang harus dibenahi di internal Unsyiah.
Semoga korps guru besar yang sudah dimiliki Unsyiah saat ini mampu mengembangkan dan memberikan kontribusi nyata bagi daerah dan bangsa, serta mampu memperbaiki kualitas universitas, sehingga menjadi universitas berkelas dunia. Pertanyaannya, apakah para guru besar yang sudah berjumlah 39 orang di Unsyiah mampu mewujudkan hal itu? Apakah para guru besar mampu meningkatkan kualitas Unsyiah di mata dunia internasional? Apakah keberadaan para guru besar yang kian bertambah benar-benar dapat menjadikan Unsyiah sebagai world class university? Demikian surat pembaca dari Yuhdi Fahrimal, mahasiswa FISIP Unsyiah.
Salah salah seorang anggota milis memberikan tanaggapan bahwa “para guru besar itu lebih banyak menjadi anggota senat Universitas supaya bisa memilih rektor ketimbang berkarya untuk memajukan Universitas ini”. Anggota yang lain mengatakan “berdasarkan phenomena (masukan atau kritikan civitas akademika) itu bisa disimpulkan ada something wrong dengan sistem yang berjalan di universitas saat ini. Paling tidak timbul kesan bahwa di Unsyiah belum adanya sarana untuk mengakomodir saran atau kritikan dari segenap civitas akademika terhadap sistem yang ada. Fasilitas yang ada hanya merupakan kelengkapan belaka sehingga tidak ada follow-up atas saran atau kritikan yang telah disampaikan.
Konsekuensi dari kondisi ini adalah seseorang yang merasa tidak puas dengan sistem yang ada akan mencari sarana lain untuk mengungkapkan segala ketidakpuasannya. Tentu hal ini sangat disayangkan, di mana persoalan yang harusnya bisa diselesaikan secara internal berubah menjadi konsumsi publik. Kondisi ini tentu akan memperparah keterpurukan Unsyiah di mata masyarakat. Untuk itu demi kebaikan Unsyiah di masa yang akan datang, saya fikir ada baiknya kita kembali mengiatkan kegiatan-kegiatas diskusi di antara segenap civitas akademika untuk menganalisis apakah sistem yang berjalan saat ini sudah sesuai dengan yang diharapkan atau sebaliknya. Lebih jauh, saran dan kritikan sebaiknya sesegera mungkin difollow-up secara transparent dan accountable sesuai dengan mekanisme yang ada. Dengan demikian masalah-masalah yang sifatnya internal tidak lagi menjadi konsumsi publik dan dapat diselesaikan sebagaimana mestinya”.  
Lebih jauh, ada tanggapan lain yang menyatakan keraguannya atas harapan-harapan yang ditujukan kepada para guru besar seperti dalam tulisan Yuhdi Fahrimal di dalam Droe keu Droe. Dipertanyakan seberapa banyak hasil pemikiran berupa ide perkembangan dan perbaikan dari para guru besar yang telah disampaikan dalam forum atau dalam berbagai kesempatan? Padahal suara (tulisan) mereka jauh lebih bermakna & bergema daripada suara dosen biasa.
Anggota milis lain memberikan sinyalemen seperti berikut. “Saya dengar kita sudah "kehilangan tempat" untuk berdiskusi di Unsyiah, sehingga harus ke Brastagi. Jangan salahkan orang lain, karena kita ikut2an membangun ekonomi tetangga, walaupun rumah kita masih rewot”. Kemudian ada respon yang mempunyai makna subjektif tertentu bahwa “ke Berastagi dingin pak seperti Takengon; ke Berastagi jauh dari kedai kopi sehingga lebih konsentrasi; ke  Berastagi bisa butuh waktu 2 hari volume kerja pergi dan pulang”.
Ada warga milis yang member komentar begini. “Tidak apalah, memang Brastagi itu sejuk nan indah, apalagi kalau nginap nya di Mikie Holiday Hotel and Resort, tentu membuat pikiran sejuk, jernih dan cemerlang. Saya kira itu masih sah-sah sajalah, asalkan hasil/manfaatnya besar bagi Unsyiah. Brastagi pun masih NKRI, daripada seperti yang dilakukan Dewan Kehormatan DPR RI yang study banding ke negara Yunani itu, kan lebih baik di Brastagi ya kan?”
Anggota milis lain memberikan komentar bahwa “Unsyiah sudah mempunyai banyak staf pengajar lulusan luar negeri dalam berbagai bidang, baik untuk tingkat Master ataupun Doktor. Tentunya mereka yang studi di luar negeri memiliki pengalaman yang dapat diterapkan di Unsyiah walaupun memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai yang benar-benar optimal. Kebanyakan orang hanya bisa menyarankan dan juga mengkritik, tapi jarang yang mau melakukan sesuai dengan apa yang telah disarankan kepada orang lain. Misalnya, sebagai staf pengajar kita menyarankan mahasiswa untuk lebih banyak belajar secara mandiri, tapi apakah kita selaku staf pengajar telah benar-benar siap dalam memberikan materi kepada mahasiswa. Terkadang kita tidak masuk mengajar dengan sengaja, mahasiswa telah menunggu, boleh jadi pada saat tersebut kita tidak ada keperluan atau agenda apapun. Marilah kita perbaiki, termasuk diri saya sendiri, apa yang seharusnya perlu diperbaiki secara bersama-sama, dalam hal ini semua komponan civitas akademika Unsyiah”.
Anggota milis lain memberikan pendapat seperti ini. “Tetap optimislah, apalagi prof kita semakin banyak, kita doakan mudah2an kedepan akan bisa lebih banyak hasil karya para guru besar kita demi kemajuan unsyiah dan NAD. Program evaluasi kinerja para Prof yang mulai dijalankan sejak tahun ini menstimulasi energi besar kearah itu”.
Ada juga warga milis yang menjawab begini. “Sudah seharusnya kita menaruh harapan besar pada para Guru Besar kita (terutama pada mereka yang baru diangkat), tapi mohon jangan pula kita lupakan jasa para Guru Besar yang telah mendahului kita atau beliau-beliau yang masih ada namun tidak aktif lagi berkarya dlilingkungan akademia (dengan kata lain sudah pensiun). Tanpa mereka, Unsyiah juga bukan apa-apa.
Berdasarkan opini dan berbagai tanggapan tersebut perkenankan saya menyatakan "sangat setuju" pada semua itu. Misalnya, statement Doktor Izarul Machdar bahwa "...Unsyiah tidak punya "mekanisme komplain" yang baik yang harusnya bisa dibangun melalui sistem Monitoring dan Evaluasi". Itu adalah masukan sangat berguna dan konstruktif. Demikian pula semua gagasan lain akan bermanfaat jika dilihat dari sudut pandang moralitas keilmuan, “kerendahan hati”.
Saya telah mencoba mengamati (dengan andalan observation from within) beberapa tindakan (subjective meaning) sebagian pimpinan baik pada level universitas (Kantor Pusat Administrasi, KPA-Unsyiah) kita dan ataupun unit-unit lain di bawahnya. Sejauh ini saya memberanikan diri untuk menyatakan secara hipotetis respon para pimpinan kita tidak cukup menggembirakan. Mereka tidak memperlihatkan isyarat "welcome" yang memadai terhadap keluhan-keluhan, kritikan-kritikan, dan bahkan anjuran-anjuran para civitas akademika, utamanya para anggota mailing-list (milis) jambo ini untuk perbaikan dan kemajuan bersama.
Di satu sisi, berbagai masukan baik melalui cara-cara penyampaian yang "soft style" maupun "hard style" telah disajikan oleh sejumlah anggota milis. Namun demikian dapat dikatakan amat sedikit respon yang nyata (signifikan) dari para pimpinan institusi. Dalam beberapa kesempatan PR1 sempat memberikan tanggapan atas masukan warga jambo. Sebagian pimpinan lain cenderung membiarkan saja ("Emang Gue Pikirin", EGP aja) pelbagai masukan dari warga milis. Pembiaran ini dapat menjurus (sengaja or tidak sengaja) pada "pembusukan", pembunuhan watak penulis (kritikus) yang memberi masukan, nasihat, ingatan demi perubahan atau kebajikan. Sebagaimana disetir beberapa warga milis melalui beberapaa doktrin spiritual betapa pentingnya kita saling menasihati dan mengingati dalam upaya mewujudkan kebenaran, kejujuran dan keadilan di lingkungan komunitas akadmis Unsyiah.
Di sisi lain, tidak sedikit warga milis juga menunjukkan ketidak-aktivan (ketidak-pekaan) mereka untuk memberi dukungan dalam berbagai wujud gagasan akademis kepada para pengkritik, pemberi masukan. Orang-orang yang memberikan masukan kritis terhadap kemungkinan pelanggaran atau penyimpangan yang dilakukan aktor-aktor di univesitas itu berkorban demi kebajikan organisasi Unsyiah. Boleh jadi, sikap diam atau pertisipasi pasif para warga jambo dapat (tanpa sadar) mendukung sikap EGP para pimpinan lembaga.
Jadi, untuk memungkinkan pengejawantahan prinsip-prinsip good governance (and clean higher education management) kita butuh (komitmen) bersama dalam rangka untuk menegakkan kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Melalui milis ini perkenankan saya menyerukan "wahai para intelektual kampus yang menjunjung tinggi moralitas pribadi dan integritas keilmuan, marilah kita mewujudkan kaidah-kaidah dan nilai-nilai keperdulian, saling memperingati, menasihati, dan menjaga amanah untuk mencerahkan ummat manusia melalui administrasi dan pengelolaan perguruan tinggi" demi mencerdaskan bangsa kita, calon lulusan Unsyiah yang kreatif dan inovatif.
Jika boleh dipertanyakan: Gejala apa sebetulnya yang telah dan sedang berlangsung di lingkungan internal universitas kita ini? Apakah ada medium lain yang relatif "rational" untuk memungkinkan mengakomodasi berbagai komplain warga yang dapat menguntungkan upaya pengembangan Unsyiah? Mengapa para pimpinan cenderung "alergi" terhadap kritik-kritik dari para warga komunitas ilmiah Unsyiah ini? Apa dan bagaimana cara kita memecahkan atau membuat solusi secara bersama untuk mengatasi semua persoalan yang kontradiktif dengan tujuan merealisasikan kejujuran, kebenaran, dan keadilan bagi sesama insan, utamanya komunitas akademis?  
Demikianlah, semoga seruan ini bisa memberikan motivasi dan keberanian kita secara bersama untuk melawan kebatilan dalam ruang lingkup lingkup amar makruf nahi mungkar Unsyiah. Untuk itu saya mohon masukan dan sanggahan dari para warga milis semua. Saya mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan di hati pembaca.
Salam hormat  

Rabu, 03 November 2010

Issues on professionalism in case of teaching staff at FISIP-Unsyiah


Yth para pembaca yang budiman,

Berikut ini adalah bagian dari proses komunikasi antar civitas akademika dalam upaya mereka saling memberikan masukan kritis demi pengembangan kinerja perguruan tinggi yang dihormatinya. Proses komunikasi tersebut dirajut dari sejumlah komentar para dosen melalui mailing list kelembagaan. Saya mohon kritikan dan pandangan tentang penyajian ini. Terima kasih.


From: aroen jeram <aroen_jeram@yahoo.com>
To: jambo_unsyiah@yahoogroups.com
Sent: Wed, November 3, 2010 2:35:19 PM
Subject: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik
Tue, Nov 2nd 2010, 08:33

"Dicari, Dosen yang Profesional"
berita melalui "Droe keu Droe" Serambi Indonesia 

Tahun 2007 adalah tahun pertama saya masuk kuliah di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Jurusan Ilmu Komunikasi. Pada tahun ini pula FISIP Unsyiah pertama kali menerima mahasiswa baru. Saya pribadi sangat bangga bisa kuliah di Jurusan Komunikasi FISIF, karena selain saya merupakan angkatan pertama, saya juga sangat tertarik dan suka dengan ilmu komunikasi sejak masih duduk di bangku SMA.

Akan tetapi, permasalahan yang saya dan teman-teman seangkatan alami adalah ketika kami mendapati fakta ada beberapa dosen kami yang kompetensi atau disiplin ilmunya tidak sesuai dengan mata kuliah ilmu komunikasi yang dia asuh. Dengan kata lain, antara dosen dan mata kuliah ada yang sangat tidak nyambung. Contohnya, mata kuliah Komunikasi Internasional, dosen yang mengajar mata kuliah tersebut tidak berlatar belakang ilmu komunikasi atau hubungan internasional, melainkan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMP/KN). 

Tiap semester pasti ada beberapa mata kuliah yang dosen pengajarnya tidak sesuai kecakapan, kompetensi, dan disiplin ilmunya dengan mata kuliah yang dia ajar. Kami sangat berharap pihak terkait (Dekan FISIP Unsyiah dan stafnya) segera mengatasi persoalan ini, karena ini menyangkut masa depan kami. Buat apa kami lulus kuliah, tapi kami tidak mendapatkan ilmu yang sesuai dengan jurusan kami? Semoga kejadian yang kami alami ini tidak dialami oleh adik-adik kami (angkatan selanjutnya).

Nasrul Fuad 
Mahasiswa FISIP Unsyiah
---------------------------------------------
Re: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik
Wednesday, November 3, 2010 5:13 AM
From:
"saleh sjafei"
To:
"Jambo UNsyiah"
 
Saleum untuk warga milis,

Terima kasih untuk kolega (mahasiswa dan dosen) yang mengingatkan kondisi FISIP baik masa lampau (tiga tahun lalu) maupun kurun waktu sekarang (terutama setelah masa penunjukan pelantikan Dekan FISIP periode 2009-2013).

Sebagai bagian dari otokritik saya kira surat pembaca via media massa itu patut menjadi "nasihat akademis" bagi para pimpinan FISIP, utamanya saya sendiri. Namun, ketidak-nyamanan kondisi manajemen FiSIP di bawah Dekan sekarang akan menjadi "threats" bagi "public integrity" institusi bersangkutan ke depan.

Saya adalah salah seorang dari unsur pimpinan FISIP yang acapkali memberikan komentar kritis terhadap kinerja bersama untuk pengembangan fakultas tersebut. Tetapi, kritikan saya agaknya tidak memberikan hasil yang positif bagi perbaikan kinerja pembinaan lembaga pendidikan yang masih baru itu. Dalam beberapa hal saya melihat ada korelasi antara cara berpikir Top Leader FISIP dengan Top Leader Universitas. Oleh karena itu, apa saja (kritikan) dan siapa saja pun yang memberikan masukan (kritis) kepada Dekan jika Unsyiah's Top Leader merasa sudah cocok dengen cara-cara sang Dekan (taken for granted), maka selama itu pula perubahan dan perbaikan kinerja (performance) akademis FISIP tidak mungkin berbeda dari tiga tahunan lalu (manajemen muge).

Saya kira perlu ada banyak lagi surat pembaca baik dari para mahasiswa ataupun para dosen dan tenaga administrasi FISIP demi kebenaran, kejujuran, dan keadilan di fakultas tersebut. Tanggapan para anggota milis jambo_unsyiah akan sangat berarti dan menjadi "cemeti" untuk memungkinkan para anggota senat universitas mendapatkan perhatian seperlunya.

Demikianlah, saya mohon maaf atas tanggapan kritis ini untuk saya sendiri yang naif dan banyak kelemahan dalam mewujudkan mimpi FISIP yang progresif. Mohon nasihat para ilmuan Unsyiah untuk kebaikan bersama.

Billahitaufiq wal-hidayah, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. saleh sjafei
-------------------------------------
From: "saleh sjafei"
Date: Wed, 3 Nov 2010 09:47:11 +0000
To: dokter Andalas
ReplyTo: saleh_sjafei@yahoo.com
Cc: Dek Pendy; Saifuddin Bantasyam; Prof. Dr. Husni Jalil; dokter Rajudin Muhammad; Prof. Dr. Bahrein T. Sugihen
Subject: Re: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik

Hai Dokter Andalas yang kritis,

Jawaban saya, tentu saja ada anggota senat FISIP baik untuk level fakultas dan universitas. Anggota senat tingkat fakultas terdiri dari (dekan sebagai ketua, dan anggota2nya) para pembantu dekan, ketua dan sekretaris program studi, serta ketua dan sekretaris laboratorium (ilmu komunikasi, lab-politik & sosiologi belum disiapkan).

Nah, itu dia para anggota senat fakultas dokter Andalas Yth. Para pembantu Dekan dan semua Ketua dan Sekretaris Prodi serta Lab yang ada tentu saja bukan hasil pemilihan (yang akademis-demokratis) melainkan penunjukan secara politis (barang tentu akan bias penguasa). Demikian pula anggota senat untuk tingkat universitas dari FISIP itu dipilih (secara aklamasi-formal, dosen2 yang manut dan patuh, pendiam) dengan asumsi untuk mendukung (pada saat kampanye calon2 rektor yang lalu) kemenangan Rektor Unsyiah yang sekarang. Dengan demikian apa yang bisa diharap tanggapan kritis dari para anggota senat FISIP baik pada level Fakultas maupun Universitas untuk kebutuhan perbaikan atau peningkatan profesionalisme pengelolaan FISIP-Unsyiah?

Demikian Dokter Andalas. Please advice. Salam, saleh sjafei
-------------------------------
Re: [jambo_unsyiah] Dosen pengampu MK di Fisip Unsyiah
Wednesday, November 3, 2010 8:21 AM
From:"saleh sjafei"
To:"Jambo UNsyiah"
Cc:"Mirza Irwansyah" , "Dr. Nur Rasyid, M"
 

Dear all,

Tawaran atau usulan Pak Asnawi Muslem untuk "dosen pengajar mata-kuliah (ilmu) komunikasi internasional" adalah menarik (it is interesting) untuk didiskusikan bersama melalui media (milis jambo ini).

Menurut hemat, siapa saja pun mengajar mata-kuliah tersebut. Itu banyak tergantung pada tujuan instruksional umum dan khusus yang diharapkan dicapai via mata-kuliah bersangkutan. Jadi, diperlukan satuan acara perkulihan (SAP) atau sylabus tertentu yang terukur untuk suatu capaian ilmiah.

Namun, sejauh pengetahuan saya seseorang dipandang kompeten dan memiliki kapasitas akademis dalam suatu bidang (discipline) ilmu apabila yang bersangkutan memenuhi kriteria berikut ini.

Seberapa jauh orang2 tersebut telah memahami dan menguasai (1) pokok permasalahan or objek studi or subject matter disiplin ilmu itu, or ontological assumption; (2) theory, epistimological frame-work; (3) and its methodological implication.

Nah, dengan demikian, menurut pandangan saya seseorang dapat dikatakan pakar, ilmuan, atau mumpuni secara akademis dalam bidang ilmu komunikasi jika orang bersangkutan telah memperlihatkan kompetensi keilmuannya, misalnya, melalui karya ilmiah (thesis, dissertasi, artikel2 di jurnal ilmiah tertentu) yang diakui oleh peer-groupnya.

Dengan kata lain, sederhananya orang-orang yang dapat dianggap scientist dalam bidang ilmu komunikasi (nasional or internasional) jika pakar2 itu menjelaskan atau menganalisis suatu pokok permasalahan tertentu dengan TEORI-teori yang berkembang dalam ilmu komunikasi itu sendiri.

Suatu karya ilmiah bidang sosiologi apabila pokok permasalahannya dipecahkan dengan salah satu teori sosiologi yang diakui dalam peergroupnya. Jadi, tawaran atau usulan Pak Asnawi tadi dapat dilihat antara lain melalui perspektif tersebut. Boleh jadi, para pakar atau ilmuan yang disebut Pak Asnawi itu termasuk practitioner dalam bidang komunikasi internasional karena beberapa pengalaman praktis, politis, etc.

Demikianlah, saya mohon banyak maaf karena saya yakin pandangan keilmuan saya itu banyak kelemahannya. Please advice. Salam hormat, saleh sjafei
Sent from my BlackBerry®
-------------------------------------------
Re: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik
Wednesday, November 3, 2010 4:31 PM
From:
"rizana rosemary"
To:
jambo_unsyiah@yahoogroups.com
 
Hormat dan salut saya tujukan kepada mahasiswa yang telah berani meyampaikan aspirasinya atas kelemahan kinerja manajemen FISIP Unsyiah di media massa. Keberanian mahasiswa tersebut telah memotivasi saya untuk turut menyampaikan beberapa hal berikut:

Sebagai salah satu dosen muda dan baru di Fisip Unsyiah, saya juga mengalami dan merasakan adanya ketimpangan komunikasi internal di dalam institusi Fisip sejak saya diterima mengajar di lembaga tersebut, terutama antara pimpinan dengan dosen, dan juga mahasiswa.
Keputusan pengasuhan mata kuliah tertentu mutlak berada di tangan pimpinan, dengan sistem penunjukkan; dosen ini akan mengajar mata kuliah A atau B.
Sejak saya bergabung dengan Fisip, tidak ada mekanisme diskusi atau musyawarah melalui rapat yang melibatkan dosen-dosen komunikasi khususnya untuk membicarakan setiap perkembangan atau kendala yang dihadapi dalam proses pengajaran. Ketiadaan koordinasi dan komunikasi ini mengakibatkan pola tambal sulam dalam sistem pengajaran di  prodi komunikasi, pimpinan akan mencari dosen 'secara dadakan' untuk mengisi mata kuliah tertentu yang belum ada pengasuhnya. Ironinya, semua ini tidak dibicarakan secara terbuka dengan dosen-dosen komunikasi. Dan saya, juga dosen-dosen lain menerima bayak komplain dan keberatan dari mahasiswa atas dosen pengasuh dan mata kuliah tertentu. Proses pendekatan komunikasi secara pribadi sudah saya sampaikan kepada pihak pimpinan, namun tidak mendapat tanggapan sama sekali. Partisipasi kami, sebagai dosen di Fisip, diukur melalui partisipasi kami menandatangani daftar hadir, bukan melalui komunikasi interpersonal, baik formal maupun informal.

Bila boleh saya berpendapat dengan kelemahan ilmu saya dari sudut pandang teoritis (organisasi komunikasi); manajemen Fisip tidak atau belum menerapkan pendekatan organisasi komunikasi apa pun, baik 'scientific management approach' (adanya pembagian kerja dengan garis komando yang jelas dan komunikasi yang vertikal, dari pimpinan pada bawahan), maupun 'human behavior/cultural approach' (adanya komunikasi yang sirkular dan pendekatan humanis dalam pembagian tugas). Sehingga manajemen di Fisip belum dapat disebut sebagai sebuah organisasi/manajemen yang baik dan sempurna.
Saya menyadari bahwa usia Fisip masih sangat muda dan senantiasa dalam proses pembelajaran dan penyempurnaan dalam perkembangannya. Namun, walau Fisip adalah anggota termuda dalam lingkungan Unsyiah, proses pembentukannya (yang saya tahu) sudah sangat lama dan melalui mekanisme yang cukup panjang. Fakultas-fakultas lain baik di Unsyiah maupun swasta seperti Fisip Unimal, adalah model konkret untuk dapat dirujuk Fisip dalam proses pembenahannya. Prodi Psikologi juga merupakan laboratorium contoh yang baik bagi perbaikan manajemen sebuah lembaga/institusi pendidikan.
Perbaikan manajemen Fisip hanya akan mungkin terwujud bilamana ada itikad baik dari semua pihak, terutama pimpinan Fisip untuk menerima masukan dan kritikan baik internal maupun eksternal dengan kebesaran hati.

Secara pribadi saya sangat sedih mengingat mahasiswa-mahasiswi yang dengan kebangaannya  menjadi mahasiswa Fisip dan komitmen untuk menuntut banyak ilmu dari Fisip, hanya menerima realita sebaliknya. Bagi mereka dan orang tua nya Fisip adalah sebuah harapan besar, dan bukan proyek 'trial and error' atau uji coba yang hanya kelak mempertaruhkan masa depan mereka.
Doa dan harapan mendalam saya, agar rekan-rekan mahasiswa senantiasa sabar dan terus berjuang menuntut hak-hak nya dalam mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang berkualitas di Fisip Unsyiah.
Dan juga harapan saya, bahwa diskusi (kritikan dan masukan) melalui milis jambo ini dapat diterima dengan kepala dingin dan lapang dada oleh pimpinan Fisip untuk kemajuan Fisip ke depan. Mohon maap bila ada yang tidak berkenan.


Rizanna Rosemary
Master of Health Communication
The University of Sydney-Australia
Fisipol Unsyiah Banda Aceh
------------------------------------------------------
Re: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik
Wednesday, November 3, 2010 7:01 PM
From:"Saifuddin Bantasyam"
To: saleh_sjafei@yahoo.com, "dokter Andalas"
Cc: "Dek Pendy" , "Prof. Dr. Husni Jalil" , "dokter Rajudin Muhammad" , "Prof. Dr. Bahrein T. Sugihen"

Pak Saleh, jamannya sedang begitu, alias segala sesuatu ditentukan oleh kedekatan semata-mata, bukan pada kompetensi dan keilmuan serta skill, sayangnya akademisi juga mau "dilarutkan" ke dlm atmosphere seperti itu, melupakan sisi kritis akademisi. Kritik dianggap menentang, bukan bagian dari sebuah perbaikan, pertanyaan-pertanyaan diterima sebagai sebuah gugatan, atau cercaan, prasangka.  Apa yg menjadi sebab tumbuhnya situasi seperti ini di perguruan tinggi? Kita telah gagal. Orang kata hidup itu seperti bulan, ada sisi gelap dan ada sisi terang. Agaknya, meminjam istilah Pak Saleh, yg Pak Saleh tulis, atau yg ditulis oleh mhs itu, adalah sisi gelap bulan tsb yg diharapkan berubah menjadi terang.  Saya sendiri melakukan "telaah diri" juga atas kondisi hal ini, jangan sampai diri ini menjadi naif. Sekian.

-------------------------------
Re: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik
Wednesday, November 3, 2010 7:03 PM
From:"Saifuddin Bantasyam"
To: saleh_sjafei@yahoo.com, "dokter Andalas"
Cc: "Dek Pendy" , "Prof. Dr. Husni Jalil" , "dokter Rajudin Muhammad" , "Prof. Dr. Bahrein T. Sugihen"

Sangat penting bagi seorang ilmuwan atau intelektual untuk menjaga integritas diri. Sebab jika tidak, maka selesai-lah dia sebagai ilmuwan. Bukankah demikian, Pak Saleh?
-------------------------------
Re: [jambo_unsyiah] dari mahasiswa yang baik
Wednesday, November 3, 2010 11:23 PM
From:"dr rajuddin"
To:"jambo_unsyiah@yahoogroups.com"
 
Saya kira tidak perlu banyak  surat pembaca baik dari para mahasiswa ataupun para dosen dan tenaga administrasi FISIP, yang perlu "talk less and do more" untuk kemajuan kita bersama.  

Sent from my iPad

On Nov 3, 2010, at 4:13 PM, "saleh sjafei" <saleh_sjafei@yahoo.com> wrote:
perlu ada banyak lagi surat pembaca baik dari para mahasiswa ataupun para dosen dan tenaga administrasi FISIP
----------------------------------------- 
From: Zulihar Mukmin  
"Zulihar Mukmin"
To: jambo_unsyiah@yahoogroups.com
Cc: "To:"

MENCARI SOSOK DOSEN YANG PROFESIONAL DI FISIP? MIMPI
Oleh Zulihar Mukmin
            Saya tertarik atas komentar pembaca dari saudara Nasrul Fuad di Harian Serambi Indonesia, tanggal 2 November 2010, dengan judul “Dicari, Dosen Yang Profesional di FISIP”. Sejak berdirinya Jurusan/ProgramStudi Sosiologi, Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Politik di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) tahun 2007, inisiatif untuk mencari dosen-dosen yang professional dalam rangka membangun proses perkuliahan di FISIP-Unsyiah untuk melahirkan lulusan/insan-insan calon intelektual  yang professional sudah dimulai. Tetapi semua itu belum membuahkan hasil yang memadai. Agaknya, kita membutuhkan waktu dan persiapan yang lebih rasional untuk menjaring calon-calon dosen sesuai dengan bidangnya. Kita menyadari bahwa untuk menemukan lulusan S2 bidang Ilmu Komunikasi yang linier dengan S1-nya tidak mudah. Hal itu karena dosen Unsyiah  lulusan S2 komunikasi dengan liner dengan S1-nya tidak ada. Saya sendiri adalah dosen tetap di FKIP-Unsyiah, dari latar-belakang S1 Program Pendidikan Kewarganegaraan (PPkn) dan S2 bidang Sosiologi-Antropologi. Para penulis atau pembaca perlu menyadari bahwa FISIP-Unsyiah masih muda, ibarat anak baru lahir, dank arena itu ia  membutuhkan perhatian kita semua agar dengan demikian di kemudian hari dapat tumbuh dewasa dengan wawasan para lulusan yang luas sesuai bidang studinya masing-masing.
Saya memandang positif masukan kritis yang dituliskan mahasiswa FISIP-Unsyiah pada surat pembaca Serambi Indonesia. Mungkin saya termasuk salah seorang yang mengajar di FISIP tanpa latar-belakang keilmuan yang parallel pada waktu yang lalu. Saya mengajar mata-kuliah yang tidak parallel dengan bidang keilmuan saya yang mutakhis bukan ujuk-ujuk, tetapi hal itu berdasarkan pertimbangan bahwa pengalaman S1 saya berkaitan dengan mata-kuliah Lembaga Hubungan Internasional 4 SKS, dan mata kuliah Hukum Internasional 3 SKS. Pada waktu saya mengikuti pendidikan S2 (Sosiologi-Antropologi, Unpad) juga ada mata kuliah komunikasi lintas budaya bobot 3 SKS, dan mata kuliah tersebut adalah pilihan saya sendiri. Agaknya, kondisi profesionalitas dosen-dosen di FISIP tidak hanya berkaitan dengan kinerja perorangan. Seharusnya penulis surat pembaca tersebut mengkritisi profesionalitas dosen FISIP mulai dari manajemen pengelolanya sampai dengan kurikulum yang ada di buku panduan S1 FISIP sekarang. Sebelum saya dikeluarkan dari daftar pengajar FISIP, jabatan saya adalah Sekretaris Prodi Studi Ilmu Komunikasi (2007-2009). Pada saat itu saya pernah mengajak penulis surat pembaca bersangkutan untuk mengkritisi kinerja kepemimpinan dan dosen-dosennya, namun ada sejumlah mahasiswa yang merasa ketakutan terhadap Ketua Pelaksana Program Studi Sosiologi, Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Politik, yakni Dekan FISIP yang sekarang.
Sebagai mahasiswa seyogianya menginginkan dosen-dosen yang mengajar itu adalah mereka yang professional, namun pimpinan FISIP cenderung tidak memberikan signal untuk pemenuhan harapan tersebut. Pimpinan lembaga lebih cenderung untuk memilih pengajar-pengajar yang tidak professional yang berbanding terbaik dengan upaya untuk membagun FISIP yang lebih baik. Agaknya, dengan kinerja terakhir pimpinan tampak bahwa dosen-dosen di FISIP sekarang tidak penting professional, yang terpenting orang-orang yang menganggap dirinya professional menjalin komunikasi/hubungan kedekatan (personal) dengan pengelola FISIP supaya diberikan mata kuliah untuk mengajar  hehehe........
Pada saat penulis masih menjabat sebagai Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi pernah punya gagasan untuk melakukan kunjungan kerja ke Universitas di Bandung dalam rangka mencari calon-calon dosen lulusan Fakultas atau jurusan Ilmu Komunikasi. Rencana itu didasarkan pada keinginan agar para dosen yang akan datang latar-belakang keilmuannya linier antara S1 dan S2nya. Sebelum renacan itu dibicarakan dalam suatu rapat, saya konsultasikan dengan Ketua Pelaksana,  apa tanggapan beliau pada waktu itu? Keupeu (untuk apa itu?) Beberapa lama kemudian saya mencoba mengkritisi manajemen serta peran program studi yang selalu diatur oleh Ketua Pelaksana Program, bukan diatur oleh Ketua Prodi/Sekretaris Prodi dengan kewenangan akademisnya. Pada akhirnya saya dibuku-hitamkan (diblacklist atau ditendang) dari FISIP. Saya berpikir dan menyadari bukan orang asing di FISIP, tetapi saya bekerja ikut membangun demi pengembangan FISIP-Unsyiah.
Ada beberapa hal yang patut saya ungkapkan di sini (1) manajemen. Bahwa orang-orang yang memimpin FISIP sekarang hampir seluruhnya tidak professional baik pimpinan maupun pembantu-pembantunya. Hal ini dilihat dari latar-keilmuan mereka masing-masing. Ada banyak dari latar-belakang Ilmu Hukum, Geografi, Pendidikan Ekonomi dan satu orang dari Ilmu Politik, satu orang lagi Sosiologi. Sedangkan pimpinan Program Studi (ada tiga prodi), yang satu (Prodi) ilmu Komunikasi dijabat oleh orang yang berlatar-bidang sosiologi, Sekretarisnya berasal dari bidang Ilmu Pendidikan. Dua, Prodi Ilmu Politik dijabat oleh (baik ketua prodi/sekretaris) orang-orang yang sama-sama berlatar-belakang Ilmu Hukum; dan ketiga, Prodi Sosiologi, ketuanya berasal dari Ilmu Sejarah dan Sekretarisnya Sosiologi.
Semua kebijakan yang ada di FISIP termasuk  semua Prodi diatur oleh Dekan. Bagaimanapun, Dekan itu tidak didipilih secara demokratis, akan tetapi ditunjuk langsung oleh Rektor Unsyiah. Dengan demikian,  sebarapa mungkin FISIP itu bisa maju kalau Dekan tidak membangun kerjasama yang baik di antara para pimpinan untuk menbgatasi phenomena terseut?Apa mungkin lulusan FISIP nanti siap menghadapi tatangan global? Seberapa memadai fasilitas pendidikan FISIP sejauh ini?Ttanyakanlah semua itu pada rumput yang bergoyang. Manajemen FISIP sama seperti perusahaan keluarga........
(2) mengenai kurikulum FISIP. Adalah termasuk saya yang terlibat secara intens dalam penyusunan kurikulum FISIP yang ada sekarang. Saya merancang dan menyusun kurikulum itu untuk melengkapi proposal pendirian FISIP agar mungkin mendapat ijin operasional ketiga Prodi tersebut dari Dikti. Kurikulum tersebut saya ambil baagian-bagiannya dari mana-mana. Namun,  sampai sekarang pun kurikulumnya masih dipakai tanpa ada perubahan sedikitpun. Dalam hal ini, orang yang menyusun kurikulum tersebut boleh dimusuhi dan ditendang dari FISIP, namun kurulum yang disusunnya masih dipakai sampai sekarang, dan belum ada perubahan. Walaupun saya tidak lagi di FISIP, saya masih prihatin pada pengelolaan FISIP; apa lagi sekarang FISIP bukannya lebih baik melainkan lebih buruk setelah saya tidak ada lagi di FISIP.
(3) perihal dosen FISIP. Perlu diketahui bahwa sejak awal saya dimusuhi oleh para pengelola di FISIP karena saya sebagai Sekretaris Prodi ilmu komunikasi tidak memperkenankan orang-orang yang mengajar Prodi tersebut mereka yang bukan dosen. Antara Ketua Prodi dengan saya sebagai Sekretaris sudah menyusun pembagian tugas dosen-dosen bidangnya walaupun tidak linier, tetapi itu semua kemudian diganti secara sepihak oleh Ketua Pelaksana pada saat itu (yakni Dekan sekarang) tanpa konfirmasi kepada kami. Ketua pelaksana pada saat itu menginginkan agar orang-orang yang deket dengannya yang mengasuh mata kuliah. Mestinya beliau memberitau lebih awal titipan-titipannya sebelum kami distribusikan kepada dosen-dosen yang sudah kami pilioh secara professional. Apa yang terjadi kemudian bahwa orang-oarang titipan ketua pelaksana pada saat itu malah bukan dosen Unsyiah, melainkan  orang-orang yang bukan bidangnya. Mereka berstatus sebagai pegawai negeri (PNS) biasa bukan dosen dan orang-orang yang bekerja di NGO yang pendidikannya hanya S1. Nah, hendak dikemanakan semua itu? Agaknya, penulis surat pembaca tidak berani mengkritisinya pada saat itu karena berbagai hal dan sekrang baru punya peluang dan keberanian untuk mempersoalkan carut-marutnya FISIP, pada saat saya tidak lagi mengajar di sana? Mestinya ada banyak mahasiswa juga mengkritisi dosen-dosen lain yang mengasuh mata kuliah tidak singkron dengan latar-belakang keahliannya. Mungkin juga baik untuk mengkritisi dosen penganti mata kuliah yang pernah saya asuh. Pemerhati di kalangan mahasiswa juga perlu mengkritisi kinerja Ketua Program Studi dan Sekretarisnya yang jelas-jelas bukan orang berlatar-belakang ilmu komunikasi. Jika beberapa mahasiswa dahulu mau bekerjasama dengan beberapa dosen untuk membangun kinerja FISIP yang lebih baik mungkin saja kondisinya tidak seburuk sekarang. Apalagi kalau para mahasiswa mengkritisi gaya dan kinerja kepemimpinan Ketua Pelaksana FISIP pada saat  itu yang mengasuh mata-kuliah Ilmu Politik,semua orang paham bahwa beliau bukan dari latar-bidang ilmu politik. Cara mengajarnya, masuk sebentar terus keluar hanya dua atau tiga kali pertemuan saja sudah dianggap cukup dalam satu semester, apakah ketidak-prihatinan itu karena para mahasiswa mudah mendapat nilai A dari beliau?
Ketua pelaksana Program Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang dulu sudah menjadi dekan FISIP definitive sekarang (2009-2013). Adalah sebaiknya para mahasiswa mengajukan pertanyaan kritis langsung kepada Dekannya. Mungkin juga mahasiswa memandang kondisi itu sudah harus dikomentari melalui surat pembaca harian di harian Serambi Indonesia. Kendatipun beberapa mahasiswa merasa punya sentiment personal dengan saya, tetapi buat saya  hal itu tidak ada masalah. Dengan ada surat pembaca kritis anda saya memandang dukungan positif sekarang, dan itu menunjukkan bahwa para pengelola FISIP bukan orang-orang professional.
Sejak gonjang ganjing balas pantun melalui opini FISIP beberapa bulan lalu baik di mailing list jambo_unsyiah maupun di harian Serambi Indonesia, saya mengambil posisi diam. Saya tidak mau ikut-ikutan gonjang-ganjing. Saya khawatir dikatakan orang bahwa saya kecewa karena ditendang dari FISIP. Padahal saya dengan Pak Azhari Husin, SH., M.Si selalu berbeda pendapat dengan Ketua Pelaksana saat itu tentang kebijakan-kebijakan program yang tidak professional dan kami yakin beliau tidak mengerti bagaimana cara mengelola lembaga pendidikan (FISIP). Pekerjaan Ketua Prodi/Sekretaris pada waktu itu hanya Tukan Stempel Ketua Pelaksana saja. Setelah saya ditendang dari FISIP saya tidak mampu menahan diri untuk berbicara secara  objektif di luar FISIP karena saya pernah menjadi orang dalam yang paham seluk beluk kerja pimpinan sekarang. Itu saya lakukan kerena saya ikut bertanggung jawab sebagai bagian dari orang yang membangun FISIP yang ada sekarang. Walaupun saya yang dikritik tidak professional untuk berada di FISIP sekarang. Sepeniggalan saya dari sana bukannya lebih baik, malah lebih buruk dari saya bayangkan. Jadi yang tidak professional itu siapa? Tanyakan pada rumput yang bergoyang............
Jika ada yang menginginkan dosen FISIP dan manajemen Fisip  yang profesional kritisi juga manajemen Rektor Unsyiah yang juga perlu diperbaiki secara profesional jangan sempat akreditasi Unsyiah ke depan mendapat nilail C lagi.......
------------------------------------------