Senin, 26 Oktober 2009

PILSUNG REKTOR

Para anggota MILIS yang terhormat,


Pada dasarnya, Pemilihan pemimpin Universitas secara langsung (baik pada tingkat universitas maupun pada level fakultas-fakultas) PILSUNG itu enak didengar namun tidak cukup enak untuk direalisasikan. PILSUNG adalah tradisi atau sistem seleksi calon pemimpin yang telah berkembang dalam masyarakat yang sudah relatif lebih rasional. Tidak hanya berlaku untuk masyarakat modern di negara-negara maju, tetapi juga berlaku dalam masyarakat yang sedang berkembang seperti negara kita. Universitas Indonesia (UI) adalah salah satu dari itu. UI sudah lebih dari satu kali menyelenggarakan PILSUNG untuk REKTOR dan juga DEKAN pada tingkat Fakultas.

Saya tahu persis bagaimana PILSUNG FISIP-UI ketika saya masih belajar di sana beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika REKTOR UI sekarang (Gumilar Soemantri) ikut-serta dalam PILSUNG DEKAN FAKULTAS dan akhirnya beliau pemenangnya.

Pada saat itu FISIP-UI sudah menyelenggarakan paket BHMN atau BHP dengan struktur kepemimpinan yang relatif lebih rasional pula. Masalahnya apakah yang dimaksud dengan indikator RASIONAL dalam hal ini. Paling tidak, konsep rasionalitas itu menekankan pada ukuran-ukuran EFISIENSI dan EFEKTIVITAS dalam berbagai kegiatan keorganisasian. RASIONALITAS ITU MERUJUK PADA PROSES SEKULARISASI, bagian dari differensiasi dalam berbagai bidang pekerjaan organisasi (KEHIDUPAN KEDUNIAWIAN), dalam hal ini pengembangan MEKANISME PENDIDIKAN TINGGI di Universitas. Komuniotas akademik kampus UI, utamanya FISIP-UI sudah memenuhi salah satu kriteria kematangan dalam bidang pemikiran, integritas dan kompetensi intelektual civitas akademika mereka.

Adalah sangat mungkin kita menuju pada PILSUNG yang demikian itu dengan berbagai persyaratan yang memungkinkan kita penuhi. Kita hanya membutuhkan waktu dan persispan yang memadai, utamanya dari segi KOMPETENSI MASYARAKAT KITA, dari mana masukan (calon-calon mahasiswa) yang akan memenuhi penyelenggaraan pendidikan tinggi di daerah kita. KOMPETENSI itu mencakup aspek-aspek sosial-budaya, politik, dan ekonomi. PILSUNG pada tingkat Propinsi Aceh periode yang lalu, misalkan, dapat kita cermati melalui hasil penelitian BANK DUNIA ("Demokrasi Patronase") yang memperlihatkan betapa secara substantif PILSUNG itu tidak terjadi. PILSUNG hanya tampak dari segi RASIONALITAS (Instrumental) PRAKTIS saja, tidak menunjukkan dukungan PILSUNG DEMOKRATIS dari segi RASIONALITAS-SUBSTANTIF. Capaian PILSUNG yang demikian itu hanya akan menguntungkan pihak-pihak Pemilik Kapital Saja bersama Penguasa.

Demikianlah. Mudah-mudahan ocehan yang rada panjang ini ada manfaatnya.

Salam Ramazhan,


Saleh Sjafei

Alumni Departemen Sosiologi FISIP-UI